Sabtu, 16 Juli 2011

Kelas Lama

oleh Aulia Meytriasari Firmundia
@auliaw

Sosok itu terus mondar-mandir di depan papan pengumuman. Melihatnya mungkin orang-orang akan sedikit bingung, sebenarnya apa yang dia lakukan. Dengan seragam yang rapi, rambut dicepak dan tas selempang warna birunya, dia tetap mondar-mandir. Seperti menunggu sesuatu, tapi tak ada yang tahu apa yang ditunggunya.
                “Kamu nunggu pengumuman? Kan sudah ada? Kenapa terus mondar-mandir?”
                Sosok itu hanya tersenyum kecil sambil menggeleng. Diseragamnya tertempel papan nama bertuliskan ‘Harun A. S’. Mungkin anak baru, pikir anak-anak yang tengah berseliweran depan papan pengumuman. Karena daritadi dia sendirian, tanpa teman. Tapi anak baru itu sudah memakai seragam yang sama dengan mereka, bahkan terlihat agak lusuh.
                Adanya Harun yang terus mondar-mandir membuat anak-anak penasaran dia siapa. Siapapun yang mengajaknya bicara hanya dibalas senyuman, anggukan atau hanya gelengan kecil. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir anak baru itu.  
                Sesekali matanya memandang kearah gedung yang tengah dibangun. Gedung itu dirombak total untuk beberapa kelas baru di tahun ajaran mendatang. Tadinya gedung itu adalah kelas-kelas biasa yang sudah tidak pernah direnovasi selama sekolah ini berdirir. Entah kenapa gedung itu begitu membuat Harun tertarik. Beberapa kali dia menggumam, “Itu kelasku.”
                Harun memang tidak mengganggu, tapi dia benar-benar membuat penasaran.
                “Kamu anak baru?”
                Dia hanya tersenyum.
                “Oh anak sini, ya? Kelas berapa?”
                Dia mengangguk kecil.
                Si penanya mulai mengerutkan dahi, lalu menatap Harun lekat-lekat, “Dapat kelas apa?”
                Harun tetap diam, tapi tatapannya menghadap gedung yang tengah dibangun itu.

*
Aku tidak mengganggu, kok.
                Sudah seharian aku mondar-mandir di depan papan pengumuman, membuat orang-orang kebingungan, tapi aku tetap saja tidak menemukan jawaban.
                Mereka seharusnya mengenal aku, andai saja waktu tidak berjalan begitu cepat.
                Satu minggu lagi tahun ajaran baru dimulai, tapi tetap saja aku tidak menemukan kelasku. Apa aku sudah benar-benar begitu dilupakan oleh mereka sehingga namaku tak tertera didaftar kelas itu? Aku merasa kesal, apalagi dengan seenaknya mereka merombak kelas yang sudah aku anggap sebagai rumah kedua. Rasa-rasanya tidak adil. Gedung itu sekarang memang terlihat mewah, tapi tetap saja tidak mengundang rasa ingin kembali keruangannya.
                Aku tidak akan berhenti mencari, mungkin namaku terselip disana.
*
“Harun?”
                “Iya namanya Harun. Bapak tau?”
                Bapak itu mengerutkan alisnya yang sudah mulai berubah warna. Lalu bertanya dengan intonasi bingung, “Kamu lihat dimana? Tau darimana namanya Harun?”
                “Seminggu yang lalu, Pak. Waktu pengumuman pembagian kelas. Saya lihat dia mondar-mandir depan papan pengumuman. Yang lihat dia juga bukan saya aja, Pak. Saya kira dia anak baru, tapi katanya bukan,”
                “Anak kelas mana dia?”
                “Waktu ditanya dia enggak jawab sama sekali, Pak. Cuman senyum, geleng-geleng. Tapi dia ngeliatin gedung baru terus. Sepertinya kelasnya disana,”
                Bapak itu semakin mengerutkan keningnya.
                “Kayak yang cari-cari apa gitu, Pak… Kayak menunggu sesuatu.”
                “Duh, Nak… Bapak jadi takut,”
                “Loh, kenapa, Pak?”
                Bapak itu mengurut-ngurut keningnya lalu membuka mulutnya, masih dengan ekspresi bingung yang sama, “Karena pembangunan gedung baru itu… takut ada yang marah.”
                “Marah? Siapa, Pak?”
                “Ya itu… macam Harun.”
                “Hah?”
*
Ini kelasku.
                Tempatku menimba ilmu dengan giat, sampai akhirnya aku harus meninggalkan ruangan ini untuk selama-lamanya. Aku ingat bagaimana rasanya penyakit itu merembet ketubuhku, menghancurkan sistem otakku dengan cepat, dan aku terkapar begitu saja diruangan ini. Aku telah menggegerkan seisi sekolah.
                Memang sudah bertahun-tahun lamanya, tapi aku masih suka berada disini. Sedikit apek dan gelap, tapi tempat ini begitu menyenangkan. Sampai akhirnya benda-benda besar itu menghancurkan setiap sisi dari ruangan ini. Gedung ini hancur begitu saja. Selamat untuk anak-anak baru, kelas kalian baru.
                Tapi aku tidak suka.
                Aku mondar-mandir seharian saat pengumuman itu datang. Aku berharap namaku ada disalah satu daftar kelas, lalu orangtuaku datang untuk daftar ulang. Tapi aku hanya bisa berharap, kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu lamanya itu tidak akan terulang. Aku membiarkan diriku terlihat, tapi aku tak membiarkan kelasku hilang begitu saja.
                Mungkin sedikit gertakan akan membuat gedung-gedung itu kembali seperti semula.

Jumat, 15 Juli 2011

Kelasku X6

Rizky Putri Dayanti

Cerita kali ini mungkin kebanyakan menceritakan sifat anak-anak dikelas.  Kelasku X6 ini kelas yang paling supeeeeeeeeeeeeeer asik. Saya tidak menyangka mendapatkan kelas yang asik,kompak,konyol dan rajin. Selain itu juga kita mendapatkan walikelas yang asik bisa mengerti dengan anak-anakya, sedangkan guru bpnya juga tidak kalah asik...walaupun dia memberi saran kekami itu sangat menusuk ke hati tapi membuat kami berubah dari sifat jiwa keanak-anakan kami ini. Kalo dilihat muka anak-anak X6, muka yang sangat wibawa,tegas dan alim. Sangatlah berbeda dengan asli atau kedok mereka jikalau berada didalam kelas. Tetapi kelas kami sangatlah aktif dalam organisasi dikelas.

Saya akan menceritakan wajah mereka berubah drastis dari masuk kelas hingga keluar kelas dan ejekan mereka didalam kelas. Dimulai dari :
1.     Ketua kelas kami ini, dia bernama Auliaji Purnomo atau dipanggil aji atau bolongan hidung besar. Dia sangat wibawa jika sedang memegang jabatannya tetapi jika tidak memegang jabatannya atau sedang bercanda dia orang yang paling aneh saya temui di kelas X6.
2.    Ketua basket angkatan kami, dia bernama Rizal Firdaus atau dipanggil ijal atau dobleh. Diluar kelas mukanya sangat cool,jutek,cuek tapi kenyataannya tidak beda jauh dengan aji.
3.    Risna eka safitri atau dipanggil pipit atau pesek. Dia teman sebangku-ku yang paling pasrah jikalau dikerjainan oleh anak-anak kelas tapi kalau diluar kelas pasti melihat dia jutek banget
Banyak banget teman muka saya yang sangat jaim diluar kelas, mereka yang  diatas adalah muka yang sangat drastis berubah didalam kelas. Kelas X6 juga mempunyai predikat kelas mempunyai nilai tertinggi dari kelas X1 sampai X10, kita mendaptkan ranking ke 3.

Berharap kelas XI IPA 7 seasik dari kelas X6 ini. Walaupun kami semua telah berpisah kelas tapi tetap kompak diluar kelas. Tidak ada yang berubah saat awal kita bertemu hingga kita berpisah kelas. Mereka tetap rendah hati tidak ada yang sombong.

Kelas Pertamaku

Risna Eka Safitri

Nggak punya temen. Itu yang saya rasakan ketika pertama kalinya. Saya melihat seisi kelas, saya mencari anak-anak yang memakai lambang sekolah SMP yang sama seperti saya, awalnya cuma Ijal yang saya kenal dan saya lihat di kelas tersebut, dan itupun sudah sangat bersyukur. Sangat. Tepat di bangku kedua dan baris kedua dari kanan saya mendapatkan tempat duduk di kelas pinggir gerbang ini. (Alhamdulillah… nggak belakang-belakang amat gitu. Alamat ngobrol aja kalo di belakang). Saya duduk bersama Dwita, dia adalah teman sewaktu saya SMP. Walaupun belum terlalu akrab-akrab banget tapi saya akan mencoba untuk akrab dengan dia.

Pendiam. Itu adalah pendapat saya pertama kalinya melihat kelas ini. Beda banget sama kelakuan saya yang begini adanya, saya takut nanti yang ada cuma saya sendiri yang terlihat begitu dikelas ini. Hari demi hari saya lewati bersama anak-anak kelas tersebut. Dan ketika sampai saat itu ada entah keajaiban apa, angin topan dari mana, hujan durian dari kapan, yang memindahkan sahabat dekat saya yang dari kelas lain masuk ke kelas saya. Kipu namanya. Nama aslinya Rizki Putri Dayanti, tapi berhubung kalau manggil Rizki nanti Rizki-Rizki yang lainnya nengok, manggil Putri pun juga begitu, kalo manggil Dayanti? Dikira Yantinya si Anang nanti (......#krik), akhirnya dengan kesepakatan oleh dia sendiri, kami semua memanggil dia Kipu. Saya memutuskan untuk duduk bersama Kipu saja dibelakang, (……..akhirnya dibelakang juga).

Setelah saya bisa adaptasi dengan kelas itu, saya mencabut semua pendapat saya tentang kelas ini yang terlihat pendiam. Memang sih pendiam, tapi kalau dilihat dari kulitnya saja. Lain cerita kalau sudah di kelas. Tidak perlu ditanya bagaimana, saya pun sudah angkat tangan duluan untuk menceritakannya. Tiada hari tanpa tertawa sama anak-anak tersebut, apalagi dengan adanya si KM kelas tersebut. Aulia Aji Purnomo, biasa dipanggil Aji. Awalnya, saya melihat Aji anaknya pendiam, alim, dan jutek, tapi sebenarnya kebalikannya, dia anaknya sangat bertanggung jawab, dan dia yang sering membuat isi kelas onar dikarenakan senda guraunya. Apalagi bagi saya, saya adalah korban yang paling sering teraniaya olehnya dan anak-anak lain.

Hampir semua anak kelas tersebut yang jika dilihat dari kulitnya berbeda dengan aslinya. Terlalu banyak dan tidak akan pernah habis untuk menceritakannya satu-satu. Intinya, mereka semua sama. Tetapi, setidaknya dari pengalaman pertama saya tentang kelas di sekolah ini saya mengambil kesimpulan, tak kenal maka tak sayang & jangan pernah memandang orang dari sisi luarnya terlebih dahulu, belum tentu luar itu sama seperti apa yang ada didalamya

Arti Sahabat

Shafira Marliana

Mencari teman bermain mungkin memang mudah, tapi jika kita ingin mencari sahabat yang sejati tentu butuh perjuangan yang cukup sulit untuk sebagian orang. Mengapa? Mungkin, alasan setiap orang berbeda-beda jika ditanya tentang pertanyaan tadi. Terkadang untuk mencari teman yangcare dengan kita pun susah-susah gampang, entah karena sifatnya yang tidak kita sukai, atau ada hal lain yang membuat kita enggan untuk dekat dengannya. Kita boleh memilih-milih teman, dengan catatan orang tersebut dapat membawa kita dengan hal-hal yang baik, bukan malah menjerumuskan kita.

Begitu juga dengan sahabat, sahabat yang baik itu tidak akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif. Justru sebaliknya, sahabat yang baik akan menuntun kita pada kebenaran jika kita berada dalam kesalahan. Yang pasti, sahabat itu selalu ada disaat kita membutuhkannya. Bisa saling mengerti, dan bisa dibilang seperti keluarga ke dua. Ada yang nempel terus kaya perangko, sampai dibilang anak kembar. haha:D


Tapi, ada juga yang tidak rela kalau sahabatnya punya teman baru. Memang berlebihan, mungkin dia tidak mau kehilangan sahabatnya itu tapi sahabat sejati tidak akan pernah melupakan sahabatnya meski telah mempunyai teman baru. Berbagai macam cara untuk mempertahankan persahabatan, itu artinya sahabat memiliki arti yang lebih dibandingkan dengan teman bermain.


Kamis, 14 Juli 2011

Kelas Baruku


Tahun ajaran baru, kelas baru, teman baru, guru baru, dan pengalaman baru. Pembagian kelas X untuk ke kelas XI dilaksanankan tanggal 11 Juli 2011, saya diberitahu teman saya bahwa nama saya tertera di daftar murid kelas XI IPA 5, itu berarti selama satu tahun kedepan saya akan menghabiskan hari-hari sekolah saya bersama murid-murid lain yang juga merupakan anggota kelas XI IPA 5. Ternyata tanpa diduga pembagian kelas X mengalami revisi, hasil revisi pun diumumkan tanggal 13 Juli 2011, namun di kelas XI IPA 5 tidak terlalu banyak yang diubah.

Saya membayangkan setahun ke depan, berharap hari-hari disekolah dapat lebih menyenangkan bersama teman-teman baru. Memang ada beberapa orang yang sudah saya kenal sebelumnya, namun ada juga beberapa yang belum saya kenal sama sekali. Saya bertekad, di kelas XI ini, saya harus menjadi murid yang lebih baik, dan saya yakin apabila tekad ini dimiliki seluruh siswa, kita akan mendapatkan kualitas pendidikan yang terbaik.
Semoga kelas saya yang baru (XI IPA 5) nantinya dapat menjadi kelas yang kompak dan berprestasi

Angan Tentang Sebuah Mimpi

Oleh: Idfi Eva Ladini

Mimpi tempat dimana kita bisa menjadi yang kita inginkan, mimpi juga tempat kita berangan-angan. Tempat dimana kita membayangkan akan menjadi apa kita nanti, tempat dimana kita bisa membayangkan yang terbaik yang kita alami. Walau terkadang mimpi hanya sekedar angan yang tidak tersampaikan, tetapi dengan bermimpi paling tidak kita dapat merasakan walaupun hanya dalam bayangan hal-hal yang indah.
Ada kala waktunya kita harus mengejar mimpi yang telah kita bayangkan agar mimpi indah itu tercapai, kita harus berusaha keras walau harus banting tulang agar berhasil. Kita bisa mengejar mimpi kita, tetapi ada suatu batasan agar jangan sampai kita kelewat batas dan tidak memperdulikan yang lainnya. Kita harus berusaha dan terus berdoa kepada Tuhan agar mimpi yang kita inginkan tercapai, karena sekeras apa pun kita berusaha untuk tercapanya mimpi itu bila Tuhan tidak menghendaki pasti mimpi itu tak akan bisa tercapai.
Tetapi ada kalanya pula kita harus melepas mimpi itu karena mungkin kita tidak sanggup lagi, atau pun mimpi itu sudah terlampau tinggi. Suatu mimpi yang tidak bisa ditanggung lagi, diluar batas, atau pun sebuah mimpi yang sudah benar-benar tidak bisa kita dapatkan dan paksa lagi. Tetapi walaupun begitu tetaplah kita berangan tentang sebuah mimpi agar suatu saat mimpi itu akan tercapai, walau pun dengan berpeluh darah.

Rabu, 13 Juli 2011

Sebuah Ruangan Bernama Kelas

Oleh: Prita Ramadiani 
 
 
Ruangan ini, mungkin bagi sebagian orang terlihat begitu besar. Apalagi jika dibandingkan dengan ukuran kamar tidur yang dengan susah payah mereka minta untuk dihadirkan. Tapi bagi sebagian orang lainnya, ruangan ini tidak lebih dari ruangan biasa-biasa saja dengan furnitur yang cukup membosankan. Di dalam ruangan ini terdapat belasan meja, puluhan bangku, dan benda-benda lain yang terkadang tidak tertata dengan rapih. Terkecuali bangku yang terletak di pojok depan, bangku-bangku yang lain memiliki arti yang sangat spesial.
Bangku kayu ini walaupun tampak sederhana, harganya toh tidak sesederhana bentuk fisiknya. Mahal! Jumlahkan setiap rupiah yang digunakan untuk membayar biaya sekolah kita dan itulah harga satu bangku sederhana ini. Dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, begitu banyak materi yang dikucurkan. Rupiah-rupiah tersebutlah yang mengesankan bangku ini menjadi begitu mahal harganya. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk mejaga baik-baik bangku ini selagi senantiasa bersyukur telah dikaruniai sebuah bangku. Kita juga harus menyadari bahwa di sana, di luar sana masih banyak orang yang tak beruntung dan harus mengemis-ngemis mendapatkannya.
Pernahkah melihat orang tua kita tengah melakukan sebuah perjudian? Jangan katakan tidak, karena sesungguhnya mereka sedang melakukannya sekarang ini. Tentu saja perjudian disini bukan perjudian yang diharamkan oleh Tuhan. Bukan perjudian yang biasa dilakukan oleh casino-casino di Las Vegas atau perjudian kecil-kecilan seperti sabung ayam dan togel yang biasa dilakukan rakyat kecil. Perjudian yang dimaksud adalah perjudian yang melibatkan kita, anak-anak mereka sebagai objeknya. Sesungguhnya, orang tua kita telah melakukan sebuah investasi besar-besaran di dalam diri kita. Besar-besaran! Mereka memberikan semua yang mereka punya untuk kita. Menanamkannya dalam diri kita, anak-anak mereka. Harapan mereka, tentu saja sebuah keuntungan yang berlipat ganda dikemudian hari. Kitalah harapan mereka.
Bagi saya, ruangan ini terlihat seperti sebuah perahu kecil. Perahu yang terisi penuh sesak dengan puluhan penumpangnya yang memiliki tujuan yang sama. Secara garis besar, tujuannya tentu saja adalah sebuah kesuksesan. Kesuksesan! Keberhasilan kita dalam mencapai tujuan itupun ditentukan oleh tindak-tanduk kita dalam ruangan ini. Apakah kita dengan serius melakukan apapun demi mencapai tujuan atau hanya setengah hati dan terkesan bermain-main. Jangan pernah juga mengharapkan perjalanan menuju “pulau impian” ini akan dapat dilalui dengan mudah. Bisa saja di tengah jalan akan ada badai yang menerpa dan memanggil-manggil agar kita berhenti dalam usahanya mencapai tujuan.
Apapun itu, ketahuilah bahwa cobaan akan selalu hadir setiap waktunya dalam ruangan ini. Takkan pernah surut. Dikala badai menerpa ingatlah kisah tentang pengorbanan orang tua kita. Pengorbanan mereka. Ingatlah perjudian yang mereka lakukan dan bayangkan pula bagaimana jika perjudian ini berakhir pahit dengan sebuah kebangkrutan. Jika sudah begini, pengorbanan merekapun jadi sudah tidak ada gunanya lagi. Sia-sia! Dan bukankah inilah saatnya kita juga sedikit berkorban? Menekan ego kita demi tujuan akhir berupa kesuksesan, sebuah “pulau impian” yang begitu indah laksana surga. Dan perjalanan mengarungi samudera luas itu dimulai disini. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan. Di sini, di ruangan ini. Sebuah ruangan bernama kelas.