Sabtu, 02 Juli 2011

Antara KAMU, Sahabatmu, dan Pacarnya

Oleh: Suvi Tan Antara  
@suviantara  

KAMU sedang nggak mendua. KAMU nggak sedang dilema. Tapi kamu kesel, sebel, bete sama pacarnya sahabatmu? Pernah nggak, ngerasa begitu? Yang jadi masalah sih, sebenernya sepele, kamu dan sahabatmu jenis kelaminnya nggak sama. KAMU laki-laki, sahabatmu perempuan. KAMU perempuan, sahabatmu laki-laki. Ya jelas aja pacarnya cemburu sama kedeketan kalian. Kenapa sih, dia harus cemburu sama KAMU, padahal kan KAMU nggak ada rasa apa-apa sama sahabatmu? Kalian Cuma temenan, kan?
 
Tapi jangan salah, mungkin dia cemburu sama KAMU karena KAMU bisa lebih deket sama pacarnya. Karena di depan KAMU, pacarnya bisa bener-bener jadi diri sendiri, curhat tentang segala hal, termasuk soal cinta. Konyol kan, kalo sahabatmu itu curhat ke pacarnya soal cinta? Dan yakin deh, KAMUpun, kalo punya pacar, nggak akan pernah bisa 100% jadi diri sendiri, kayak apapun juga usahanya. Seseorang, bakalan lebih nyaman bertingkah konyol, gila, aneh, di depan sahabatnya, dibanding di depan pacarnya sendiri. Itulah kenapa pacarnya sahabatmu cemburu sama KAMU.

Hey! Apakah KAMU ngerasa kesel dicemburuin sama pacarnya? KAMU ngerasa kalo perasaan cemburu pacarnya sahabatmu ini nggak beralasan? Nggak masuk akal? Jangan-jangan……………. KAMU sendiri sudah suka sama sahabatmu.

Tunggu, jangan menyangkal dulu. Coba rasakan.. nantinya, KAMU akan tau, sebenernya gimana perasaan KAMU itu sama sahabatmu.

Baru KAMU bisa putuskan, bisa simpulkan, apa KAMU masih mau marah sama pacarnya sahabatmu?

Kamu Diantara Galian dan Rasa

Oleh: Dita Sesylia F.
@ditasesil

Hati itu abstrak dan butuh kesensitifan untuk membacanya.

Ini bukanlah hati dalam sistem ekskresi yang memiliki identitas jelas pada tiap insan yang juga dapat dibaca oleh siapa pun yang pasti memiliki ilmu, namun hati yang ini berbeda. Tidak semua insan berilmu dapat membaca hati yang ini, butuh kesensitifan juga penalaran yang terkadang tak masuk akal untuk membacanya, dan logika sama sekali tak pernah diharapkan dalam hal ini. Maka jelas sudah tidak sedikit ditemukan orang-orang yang tak tahu jalan pulang karena keengganan diri untuk terjun membaca hati, termasuk aku.

Tergali dan terus digali, aku hanya bisa pasrah melihat hatiku terus digali. Aku lemah. Entah pintu mana yang akan kamu tuju. Aku buta. Begitu pula rintangan yang harus kamu bayar untuk ini. Aku tak tahu. Dalam kegelapan cahaya nan hangat, mendesir angin malam nan ramah, membawaku melayang jauh dalam senyuman, aku terenyuh akan semua itu, aku terjatuh dalam kepasrahanku, karena kamu.

Tanpa angan kamu mengajakku larut dalam bayanganmu, sadar atau tidak, aku tak peduli, kau benar-benar indah. Tapi angan yang seharusnya menemani, nyata benar kamu tak miliki. Sehingga goresan pun tercipta, hanya untuk aku. Sisa-sisa jejakmu kupungut, titik-titikmu yang tersembunyi kucari, garis-garis wajahmu kuperhatikan, dan aku sadar akan ini, aku tetap mengaharapkanmu.

Aku benar-benar hilang dalam jalanku berpulang, terguling ke dalam gelapnya jurang nan indah. Kucoba untuk memakai nalarku untuk kembali, namun tak ada satupun jalan yang kudapatkan. Aku terjebak. Berharap seberkas cahaya memberikanku terang untuk berpulang. Tak dinyana, kudapatkan seberkas cahaya mendatangiku dan meraihku untuk berpulang, entah darimana asalnya. Apa maksud semua ini aku pun tak tahu. Ya, aku yang mengalami semua ini, tapi aku tetap tak tahu. Hingga akhirnya kucoba melayangkan imajinasiku, mencoba menjadi sosok yang bernalar tinggi, dan akhirnya kudapatkan jawaban dari semua ini. Rasa membawaku jalan pulang ke rumah.

Galian yang kamu buat memang menaruh sisi buruk dalam kehidupanku karena kau tak menggalinya dengan angan, namun senang rasanya ketika kudapat mengungkap sisi baik di balik semua itu, ketika kuharus menggunankan tingginya nalar dan kesensitifan yang kental untuk membaca dan mengartikan semua ini sehingga kudapatkan sebuah jawaban.

Meski kusadar kamu tak pernah berangan untuk menjadikanku di sampingmu, meski kusadar kamu berada jauh di sisiku, aku selalu berterimakasih padamu karena kau telah mengajakku larut dalam bayanganmu, menjadikanku sosok yang sekiranya dapat menghargai rasa dan sosok yang memiliki cerita akan rasa. Aku beruntung karena aku sudah kembali ke jalanku  untuk berpulang ke rumah, aku pun beruntung karena aku pernah jatuh ke dalam jurang nan indah sehingga kutinggalkan keengananku mencoba terjun untuk mengerti dan membaca. Berkat kau dan galianmu.

Karenamu

Oleh : Riza Angelia
@rizaangelia1809


Karena kata – katamu
Aku yang terbungkam dengan rayumu
Tak sadarkan aku dengan sudut pandangmu
Karena tingkah lakumu
Kacaukan seluruh memorianku


Karenamu….
Tingkah lakumu…
Tak kuhiraukan lagi, aku yang terus merengkuh
Menghindari semua rasa manis itu


Haruskah semua rasa di hatiku bertaruh?
Rasa yang selalu menaruh harap
Akankah kau terbangun?
Sejak mentari muncul aku berharap
Akankah kau terbangun?


Karenamu…
Tingkah lakumu…
Penantian awalku tersilang oleh publik
Hampa harapan yang kurasa kini
Hingga kelampauan kubuat berbalik


Mengayuh dan terus kau kayuh
Benamkan semua tingkah lakumu
Terlambat sudah tindak – tandukmu itu
Perahu yang membawa cinta telah lenyap oleh waktu
Itu semua karenamu

Siapa Kamu?

Oleh : Nia Priscilla
@priscillania


Matahari mulai menampakkan wajahnya. Terlihat jelas warna langit yang kuning keemasan. Sangat indah. Betapa ajaibnya Ia menciptakan dunia ini dan Ia masih memberikan kesempatan untuk aku dapat melihat keajaibannya, hari ini.
                                                                        
 Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Suasana rumah pun terdengar hirup pikuk oleh kesibukan orang rumah. Ya…..begitu pun denganku. Hari ini, hari pertama aku masuk sekolah baruku. SMA Negeri 2 Cirebon. Rasa bangga dan senang menyelimuti tubuhku yang dingin karena cuaca pagi ini. Sengaja, aku bangun lebih awal karena aku ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Ku pikir, wajar aku melakukan ini semua. Aku ingin memulai hari ku di sekolah yang baru ini dengan awal yang baik. Aku mulai mempersiapkan semuanya, mulai dari atas kepala hingga kaki. Setelah aku cek berulang-ulang….ya! Tidak ada yang kurang. Tapi entah dari mana asalnya,perasaanku bilang kalau ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang hilang.

Selama perjalanan menuju sekolah, aku berusaha mengingat-ingat kembali sesuatu yang kurang itu. Tapi, belum juga bisa mengingatnya. Kurang lebih 15 menit aku sudah sampai di sekolah baruku. Aku mulai turun dari mobil ayahku. Menginjak sekolah baruku dengan sepatu yang sudah cukup lusuh.
“Hening……….”
Satu kata yang terlintas di pikiranku. Hm…mungkin aku yang terlalu bersemangat, sampai-sampai berangkat ke sekolah pagi buta. Sesaat, ketika aku mulai melewati gerbang sekolah, aku mulai teringat sesuatu yang hilang itu. Ya…aku mengingatnya. Kini, aku tidak lagi bersama dia, sahabat karibku dan sekarang aku menyelusuri jalan dengan 1 pasang kaki bukan lagi dengan 2 pasang kaki, dimana 1 pasang kaki itu selalu berada di sampingku.
                                                                        
Aku duduk di koridor kelas, duduk sendiri tepatnya. Rasanya itucompong sekali. Tidak ada teman bicara. Cuma bisa bengong.
15 menit kemudian, mulai terdengar suara-suara yangbersliweran. Dan aku, masih duduk sendiri walaupun di sini mulai terlihat siswa-siswi berseragam putih biru. Tak sengaja aku mendengar pembiacaraan seseorang dengan temannya yang berdiri tepat di depanku. “Wah, kita nanti dapet kelas di mana ya? Anak-anaknya asik ga ya? Semoga kita satu kelas ya?” Dan blablabla…… DEG! Perasaanku semakin tidak karuan. Sedih,senang,takut dan sekarang ragu-ragu. Aku ragu dengan pilihanku. Kenapa aku tidak memilih sekolah yang sama dengan sahabatku?! Alhasil? Sekarang aku sendiri di sini. Apalagi….ketika nanti aku harus masuk kelas yang sebagaian besar orang-orangnya tidak ku kenal sama sekali. Rasa takut ini semakin besar. Keraguan ini pun juga semakin membesar. Aku takut tidak bisa bergaul dengan mereka, aku takut dikucilkan, aku takut tidak bisa beradaptasi dan masih banyak sekali pikiran yang melintas di pikiranku sekarang, seperti orang-orang yang berlalu lalang di di jalanan. Tiba-tiba sosok pria yang aku idolakan pun muncul di tengah banyaknya pikiran di dalam otakku. Aku teringat kata-kata yang selalu beliau ucapkan ketika aku sedang down. Ia selalu berkata, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Pepatah ini memang mempunyai makna yang mendalam banget. Mungkin pepatah ini benar, aku harus bersabar, pasti Tuhan udah ngerencanain yang terbaik.
                                                                        
Deg-degan. Aku masuk ke kelas baruku dengan rasa yang tidak karuan. Di sana terlihat bangku yang sudah mulai penuh dengan siswa-siswi dari berbagai smp. Mataku mulai melihat sekeliling. Mataku berhenti untuk sesaat, aku melihat kamu! Lega rasanya, setidaknya aku mengenal seseorang di kelas ini.
                                                                        
Aku mulai melewati hari-hariku bersama kamu dan juga……mereka. Kamu, dulu satu-satunya orang yang ku kenal di kelas ini dan yang sekarang menyulap diriku untuk bisa menjadi pribadi yang welcome dengan orang lain. Suka&duka, tertawa&menangis, semuanya pun kita lewati bersama. Dan tak lupa juga event-event di sekolah seperti OLS, MOP,TTCT,PTKS yang membuat kebersamaan kita semakin lekat. Melalui kamu, sekarang aku mengerti tentang arti sebuah persahabatan&kebersamaan. Suatu hal yang tak ternilai harganya. Yang tidak bisa di perjual belikan. Dan selama 1 tahun ini, kita isi hari-hari kita dengan banyak sekali cerita.

Kamu tahu? Kamu adalah………………….Terimakasih sudah menjadi bagian yang terpenting dalam hidupku. Suatu saat nanti, akan kuceritakan kisah persahabatan kita ini kepada anak dan cucuku.

Ayah

oleh : Vivian Prislyane Tjakra

Kamu adalah pahlawanku.

Saat aku taman kanak-kanak, dan ada seorang anak laki-laki jahil 
yang mengambil permenku, kamulah yang pertama mengusap air mataku dan berkata, "sudah tak apaa, ayo kita beli yang baru". 

Saat aku beranjak remaja dan memulai apa yang orang sebut itu 'pacaran' kamulah yang meneliti baik-baik siapa gerangan lakil-laki yg berani hadir dalam hidup gadis kecilnya. Tapi aku mengerti, kamu lakukan itu semua hanya untuk meyakinkan diri bahwa gadis kecilmu tidak memilih orang yang salah

Dan saat aku dewasa nanti, kamulah yang akan melepasku dalam sebuah acara yang dinamakan 'pernikahan' Kamu lah yang akan menyerahkan aku kepada laki-laki yang kau percayakan.

Kamu selalu ada dalam tiap tahap kehidupanku Ayah.. Meskipun aku tak pernah membelikanmu baju bertuliskan 'Super Dad' atau 'Best Dad Ever' aku yakin kamu tahu bahwa tidak ada orang lain yang bisa lebih baik untuk memainkan peran, sebagai Ayah Terbaikku

PS : posting ini buat Papa yang tepat hari ini ultah ke 43 :)

Itu Kamu

Oleh: Aulia

Aku dengar hari ini kamu akan datang
Hai, kapan waktu?
Aku tidak tahu

Tapi aku tidak akan menunggu
Waktu tidak berhenti hanya untuk sekarang
Aku putuskan untuk pergi

Lalu...

Aku mendongakkan kepalaku
Ada melintas di hadapanku,
lalu pergi
Aku tersenyum kecil

Ya, itu kamu.

KAMU, sebuah cerita penuh romantisme

Oleh: Rahadian Faisal (Smanda 2008, FK UGM 2008)
@rahadianfaisal 

Cerita ini dimulai 2 tahun yang lalu...
Di saat aku sedang merasa kehilangan...
Aku bertemu denganmu...
Aku langsung jatuh cinta padamu...
Jatuh cinta pada pandangan yang pertama...
Kamu mengalihkan duniaku dari yang lain...
Tanpa ragu lagi aku memilihmu...
Memilihmu dari ribuan bahkan jutaan yang lain...
Memilihmu mendampingi hidupku... 


Senang rasanya hati ini ketika kamu berada di sisiku...
Tak pernah bosan jiwa ini bertemu denganmu setiap hari...
Kamu membuat hidupku penuh warna...
Kamu membuat hari-hariku penuh rasa...
Kamu selalu ada di saat aku membutuhkanmu...
Kamu ada di saat aku senang...
Kamu pun ada di saat aku sedih... 


Kamu selalu ada untuk membantuku...
Membantuku mengerjakan tugas-tugasku...
Kamu selalu sabar...
Sabar menemaniku belajar...
dan tak bosan-bosannya berbagi ilmu yang kamu miliki...
Kamu pun menyegarkanku dari kepenatan rutinitasku...
Kamu sangat berarti dalam hidupku... 


Namun...
Terkadang kamu melalaikanku...
Membuatku lalai dari amanah-amanahku...
Membuatku lalai dari kewajiban-kewajibanku...
Tak heran...
Memandangmu seharian tak membuatku bosan...
Tak heran...
Bercengkerama denganmu sepanjang waktu tak membuatku jenuh... 


Kini, 2 tahun sudah kita bersama...
Penampilanmu tak seindah dulu lagi, tak semenarik dulu lagi...
Kecantikanmu pun mulai memudar...
Namun, percayalah...
Ku kan terus menjagamu...
Menemanimu...
Hingga akhir hayatmu... Laptopku... 

Saturday evening. 1 Sya’ban 1432 H, 2 Juli 2011. @ wisma darus shalihin, Yogyakarta...