Sabtu, 22 November 2014

Untukmu Kawan Lamaku

Oleh: Nike Wulandari
Kelas: X IIS 3


Ingatkah kamu kawan..
Ingat waktu kita saling berjanji tak saling meninggalkan?
Ingat waktu kita saling menangis akan perpisahan kita?
Ingat waktu kita saling menangis bersama karna pahitnya cinta?
Aku ingat..
Waktu itu kamu berkata friends never end,kamu juga bilang bahuku ada untuk kamu,dan terakhir sebelum kamu pergi kamu juga bilang aku takkan pernah meninggalkan kamu untuk apapun yang akan terjadi.
Tapi aku berfikir kembali..
Sekian lama kita berpisah,ada yang baru didunia mu. . .
Ada yang baru yang mengisi hari hari barumu.
Bukan,bukan aku tak ingin kamu memiliki banyak teman,aku hanya cemburu pada mereka..
Kawanku yang ada disekitarku tapi aku rasa mereka menghilang..
kawanku yang dulu telah berubah beranjak dewasa dengan mereka yang baru dia kenal...
mungkin sekarang aku yang berlebihan tak pantas berteman dengan kamu ya kawan..
Iya kawan aku sadar diri,untuk kebahagiaan mu aku memilih pergi..
Jika nanti kamu merasa sendiri,datanglah kepadaku maka aku akan menepati janjimu dan janjiku "bahuku ada untuk kamu,dan aku gaakan pernah meninggalkanmu untuk apapun yang akan terjadi"
Tahu kah kamu kawan?
Saat ini bulir bulir air mata ku bukan untuk pahitnya cinta,bukan untuk menangisi kelelahanku saat ini,tapi bulir mata ini air mata kesakitan yang menyayat hati seorang yang berlebihan karna kehilangan sahabat lamanya..
UNTUKMU dari SAHABAT LAMAMU..

Surat Kecil Untuk Waktu

Oleh: Shelly Ila Amalia
Kelas: XI MIIA 8


Halo, Waktu. Apa kabar? Kabarmu pasti baik dan akan selalu baik, tidak seperti kabarku, yang karenamu, kadang senang kadang sedih, kadang jelas kadang buram. Akupun bingung bagaimana bisa kau semena-mena padaku dan semua orang, yang jelas aku tidak berbuat apapun padamu.

Pertama, saya, mewakili semua awak manusia di dunia ini, ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih kau telah bersedia memberikanku kesempatan hidup. Yang pasti akan membuat kenangan yang sangat berharga dan susah dilupakan. Ketika aku kecil, peduli apa aku tentang waktu? Yang aku tahu dan aku mau hanya bermain dan selalu bermain. Sayangnya engkau tidak bersedia melihatku menikmati masa kecilku untuk selamanya. Bisa kau jelaskan mengapa kau tidak mau memberikan masa kecilku untuk selamanya? Hari semakin mendekati masa tuanya, akupun semakin mendekati masa dewasaku. Di pikiranku sudah banyak kenangan, yang mungkin akan meledak karena terlalu banyak. Kau bersedia menemani masa beranjak dewasaku dengan menyertai keluarga dan kawan yang tiada duanya serta kenangan bersama mereka yang abadi selamanya. Walaupun tidak semua kenangan berkategori “menyenangkan”, aku anggap yang tidak menyenangkan adalah sebagai pelajaran.

Kedua, mungkin aku agak kesal padamu, wahai Waktu. Kau datang membawa kenangan indah, lalu aku senang. Kemudian kau pergi meninggalkan kenangan buruk, lalu aku sedih dan menangis. Seringkah kau merasa tiba-tiba resah lalu gelisah, takut lalu khawatir? Oh, Waktu. Lagi-lagi kau semena-mena memberikan senang lalu sedih. Walaupun aku tahu dibalik waktu untuk bersedih yang kau berikan, kaupun pasti menyediakan kawan yang akan menemani kesedihanku. Tapi, mengapa tak kau musnahkan saja menit atau jam bahkan hari untukku bersedih?

Ketiga, sekarang aku benar-benar kesal padamu. Hei, Waktu. Apakah kau tidak pernah berpikir untuk sekali saja mengulang waktu? Atau mengulang suatu kejadian ketika aku rindu pada keadaan tersebut? Kau tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya berpisah dengan kawan yang sudah nyaman di hati dan pikiran. Kau tidak pernah merasakan bahagianya momen berasama sahabat. Pantas saja kau bertindak seenaknya padaku. Apakah salah jika aku ingin merasakan momen bahagia dengan jam, hari, tempat, dan kondisi yang persis sama? Aku mohon, Waktu. Setidaknya, bisa mengobati rindu kepada kawan lama dan tentunya momen momen bersama setiap sahabatku. Aku tahu time is money, tapi Waktu, rinduku sudah teramat dalam. Aku mohon, sekali saja, putarlah dirimu, berikanku memori-memori yang sudah lama kurindukan dengan sangat. Aku mohon, Waktu, berjanjilah...
Salam hangat,



Shelly Ila Amalia

Berdialog dengan Waktu

Oleh: Fathya Tsaqifa Azzahra (Ahra)
Kelas: X MIIA 3



Ada saat dimana kita merasakan betapa lamanya waktu berjalan. Kerap kali kita melihat jam, ternyata baru lima menit waktu berlalu. Hingga suatu hari aku bertanya kepadanya.


“Hai, waktu! Kenapa kau lama sekali? Bisakah kau cepatkan lagi?”


Sang waktu tidak menjawab. Yang ada hanya sunyi dan bunyi denting jarum jam. Aku berpikir kembali, waktu berjalan begitu lambat namun terdapat pula waktu yang berjalan begitu cepat dan seringkali kita ingin kembali ke masa itu. Lalu esoknya aku kembali bertanya pada waktu.


“Waktu, bisakah kau mengembalikanku pada masa lalu? Aku tak ingin waktu sekarang, ini lama sekali.”



Waktu tetap tak bergeming. Rasanya semakin ingin aku mengendalikan waktu. Biar aku sendiri yang mengatur waktu untuk diriku. Tetapi bagaimana caranya? Aku bertanya lagi pada waktu.


“Ini yang ketiga kalinya. Aku hanya meminta, tolong berikan waktumu untuk kuatur sendiri, sehingga aku bebas menentukanmu. Memperlambatmu. Mempercepatmu. Kembali ke masa lalu. Pergi ke masa datang. Aku bisa bebas atas waktuku.”

Kali ini sang waktu menjawab.


“Kau salah. Sejak dulu aku sudah dikendalikan olehmu. Waktu tidak sekedar tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, ataupun detik.”


Aku mengerutkan kening, “Apa maksudmu? Jadi selama ini kau apa?”


Sambil tersenyum ia menjawab.


“Waktu adalah bagaimana suasana hatimu. Bagaimana kamu mensyukurinya. Bagaimana kamu menghargainya. Maka, mulai sekarang cobalah berteman bersama waktu.”




Mendengar jawabannya, aku jadi mengerti. Selama ini akulah yang memang mengendalikan waktu. Bagaimana waktu itu berjalan tergantung pada diriku.




“Berbahagialah dengan waktu. Dengan begitu kau dapat mensyukuri betapa berharganya waktu.”





Minggu, 16 November 2014

Tema 22 November 2014

hallo #smandacivil, how's your day?
setelah beberapa bulan, akhirnya blog penulismanda ini di aktifkan kembali hihi. #smandacivil pasti masih sering berkunjung ke blog kami ini kan?

teman-teman sekarang bisa mengirimkan karyanya kembali di penulismanda, lho. karena udah lama ga ngirim, admin penulismanda akan ngingetin lagi cara mengirimkan karya tulis kalian supaya ga salah. wanna know how? klik disini aja ya hehe

diingatkan kembali, tulisan yang akan dikirim ditulis di BODY EMAIL, bukan di ATTACH ya kawan-kawan :)

seperti biasa, per minggunya ada tema nih #smandacivil. untuk tema pertama setelah beberapa bulan ini adalah "waktu". untuk adik-adik kelas X yang mungkin masih bingung, bisa lihat contoh-contoh postingan yang sebelumnya.

oiya, yang mengirimkan karya tulisnya ini ga harus anggota ekskul jurnalistik kok, teman-teman #smandacivil yang lain juga diperbolehkan mengirimkan karyanya :) malah kami dari pihak jurnalistik juga sangat mengharapkan apresiasi dari semua siswa smanda, gimana nih pasti pada ga sabar mau ngirim karyanya kan?

deadline pengiriman sampai tanggal 22 November 2014 pukul 16.00, jangan lupa untuk mengirim sesuai ketentuan ya. ayo, ditunggu karya-karyanya! ^^

SELAMAT MENULIS
VIVA SMANDA!

Sabtu, 14 Juni 2014

Kedua

Nama: Ditya Puteri
Kelas: X MIIA 9

Ada satu pepatah yang aku selalu ingat.
Di dunia ini, tidak ada yang bertahan selamanya.
Aku rasa itu benar.

Karena setiap kali kau merasa yakin, akan selalu datang hal yang bisa
menghilangkan keyakinanmu. Karena disetiap satu, selalu diikuti dua.

Karena yang awalnya "pertama" bisa menjadi yang "kedua".
Dan konsep "kedua" ini hampir sama dengan pepatah diatas.

Saat satu pilihan terlihat, akan datang pilihan kedua yang bisa membuatmu ragu.
Saat kau merasa kau bisa jadi yang pertama, yang kedua bisa saja
datang menggantikanmu.

Dan ini membuatku sadar,
di dunia ini, tidak ada yang bertahan selamanya.

Karena disetiap satu, selalu ada yang "kedua".

Life In Peace

Oleh : Fasya Hadiyan Aprilingga

Kelas : X IPA 4

“Hidup ini tak lepas dari yang namanya angka 2 yang berarti kedamaian serta keseimbangan.”

Dalam hidup ini kita tak lepas dari yang namanya angka dan tidak lepas juga dari namanya kesimbangan. Menurut pandangan saya, keseimbangan itu sama seperti angka 2 yakni bersatu dalam 2 perbedaan. Walaupun dari keduanya berbeda tetapi dapat saling melengkapi satu sama lain. Mengapa saya mengartikan keseimbangan sama dengan angka 2? Karena menurut saya dalam hidup ini kita semua tak lepas dari angka 2.

Contohnya saja seperti sifat dalam diri manusia, ada yang baik dan jahat. Walaupun 2 sifat manusia itu berbeda tetapi manusia dapat saling melengkapi satu sama lain karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan makhluk yang lainnya untuk dapat bertahan hidup. Manusia pun ada yang pintar dan juga bodoh. Namun manusia bisa saling melengkapi, yaitu manusia yang pintar dapat membantu manusia lainnya agar sama-sama mengerti dan mereka dapat mengajarkannya pada anak cucunya kelak. Cantik dan jelek, ramah dan jutek, aktif dan kalem, semua 2 perbedaan yang ada itu dapat saling melengkapi di dalam dunia ini. Lain halnya dengan alam ini, ada alam yang terlihat indah namun ada juga alam yang terliht rusak. Semua itu berbeda, namun dari perbedaan yang ada itu kita harus saling melengkapi dan saling memperbaikinya agar terlihat seimbang.

Angka 2 juga mengartikan kedamaian. Di dunia ini semua manusia perlu adanya kedamaian agar hidup tentram. Damai, membuat hidup manusia saling melengkapi satu sama lain. Dari kedamaian itu pula semua manusia yang berbeda-beda saling bersatu tanpa melihat perbedaan yang ada. Kedamaian membuat keindahan dalam hidup ini. Kedamaian pun membuat hidup tenang. Dan kedamaian pun membawa kesimbangan bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, manusia harus saling sadar akan kedamaian dan keseimbangan hidup di dunia ini. Manusia harus saling melengkapi dan manusia pun harus saling menjaga kedamaian dan keseimbangan itu.

“Keseimbangan dan kedamaian itu adalah angka 2 yang membawa keindahan bagi alam.”

Hati Nurani

Oleh  : Elysa Meilani Faradina, X IPA 1

Dua
Sebuah pilihan jalan yang ada
Antara kanan dan kiri
Hitam dan putih
Atau pun yin dan yang
Dua
Yang membatasi setiap hati
Antara kebenaran dengan kebatilan
Yang memisahkan setiap nurani
Antara belenggu dari kecintaan
Yang menujukkan setiap diri
Antara keinginan pada kebutuhan
Tak ada yang satu dalam dunia gelap ini
Kecuali dia sang penerang tanpa cahaya
Hanyalah bisikan malaikat dan syetan
Dua hal yang menemani hari
Setiap cerita
Dengan sudut pandang berbeda
Setiap jalan hidup
Dengan rasa nyaman yang berbeda
Dua kali dalam kesalahan
Namun dua kali pula diberi kesempatan
Dua kali menjalani hidup antara yang mana dunia yang mana akhirat
Dua tujuan dalam setiap hembusan nafas
Surga Firsaus atau Neraka Jahannam