Senin, 31 Maret 2014

Indonesiaku yang sekarang

Oleh   :  Prameswari K
Kelas : X IPA 4


Di zaman modern ini sulit kujumpai sosok pahlawan bangsa
Yang selalu mengatasnamakan tanah air Indonesia
Yang selalu mementingkan kepentingan bangsa
Kemana orang-orang itu?

Yang banyak kujumpai adalah para pembunuh bangsa
Dan lebih tragisnya para pembunuh bangsa kita
Sesungguhnya adalah kita sendiri

Lihatlah para koruptor
Yang seenaknya mengambil hak orang lain
Lihatlah para pengemis
Yang rela berpura-pura menjadi gembel

Sungguh tragis kondisi Indonesia
Kemiskinan
Kejahatan
Kelaparan
Serta ketidak adilannya para pemimpin bangsa

Akankah Indonesia benar-benar merdeka
Akankah Indonesia tidak akan dijajah lagi oleh bangsanya sendiri
Semua itu tergantung pada kita semua

Bahagia?

Oleh  : Githa Madani Rachmadia
Kelas : X IPA 4

Jadi sesungguhnya, apa defines dari kebahagiaan? Menurut saya bahagia itu relatif.
Makna bahagia bagi setiap orang tidak mungkin sama. Makna bahagia bagi saya dan kamu pasti berbeda.
Bagi saya bahagia itu sederhana. Tidak perlu sesuatu yang mewah atau spektakuler.
Bagi saya, duduk dibalik jendela kedai kopi favorit pada sabtu pagi ditemani secangkir hot light sweet vanilla latte itu membahagiakan. Terlebih dengan pemandangan jalan protokol kota Jakarta yang tidak pernah jauh dari keramaian.
Atau mungkin bangun pagi di setiap hari minggu, melihat matahari sudah duduk tenang di langit, keluar kamar dan menghirup aroma kopi hitam papa, lalu beranjak menuju rumah Tuhan juga membahagiakan.
Definisi bahagia bagi saya tidak complicated. Menurut saya bahagia merupakan kebutuhan mutlak setiap mahkluk hidup. Jadi, mengapa untuk mencapai bahagia saja dipersulit?
Manusia yang tidak bahagia itu menurut saya adalah manusia yang gagal dalam hidup.Saya memandang hidup adalah wahana untuk bersenang - senang. 

Life's hard. So what? Chew harder.
Life's bitter. So what? Use your mind and add some sweety sugar.
Don't give too much fucks, and you'll find your own definition of happiness eventually.


Ceritaku

Oleh   : Ditya Puteri
Kelas : X MIA 9


Aku duduk terdiam di kasur, sambil memandang langit-langit kamar yang tinggi. Seharusnya ini membuatku tenang, tapi aku malah merasa sesak. Terlalu banyak masalah yang kudapatkan belakangan ini. Entah kenapa segala sesuatu serasa berteriak dan menantang kepadaku. Rasanya seperti anjing yang menggonggong ingin bertengkar engan seorang kucing, tapi bukan hanya satu ekor, namun beberapa anjing. Aku merasa kasihan pada lamunanku sendiri, bagaimanapun juga kucing itu terasa menyedihkan. Dan rasanya aku mengerti.
Aku mencoba menghela nafas secara teratur, alih-alih merasa tenang, aku merasa lebih sesak lagi. Marah, sedih, kecewa, frustasi, dan benci, segalanya bergejolak didalam menjadi satu. Bagaimana bisa semua hal bisa berjalan seburuk ini. Apa mereka semua mencoba mengujiku, melihat seberapa besar kekuatanku.

Menguji...

Yah, ini ujian. Tapi ujianpun seharusnya ada batasnya. Aku bisa saja meledak saat ini. Marah pada semua orang, yang begitu egois dan tidak mau mengalah, marah akan semuanya.
Kenapa harus ada ujian jika aku merasa aku sudah cukup kuat? Aku memandang langit-langit lagi, dan sesuatu muncul di benakku. Diatas langit masih ada langit. Aku tersadar, ujian ini datang semata-mata untuk membuatku lebih kuat lagi, bukan untuk mengetes sejauh mana kekuatanku. Dan kapan akhirnya langit akan habis, kapan saat diatas langit tidak akan ada langit lagi, pikirku. Dan jawaban dengan sendirinya datang, saat kita sudah tidak bisa melihat langit lagi. Mati.

Yah, itu pasti. ujian akan selalu datang, dan semata-mata untuk membuatku makin kuat dan dewasa. 
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Membiarkan semua orang tahu tentang perasaanku agar aku merasa lebih tenang? Tapi bagaimana caranya? Haruskah aku berteriak dan marah, agar akhirnya semua orang sadar, bahwa aku sudah tidak tahan lagi? Haruskah aku melampiaskannya begitu saja?

Tunggu, apa tadi tujuan ujian-ujian ini? Ah ya, untuk membuatku lebih kuat dan dewasa. Jika aku melampiaskannya begitu saja, itu malah membuat masalah semakin pelik. Kekanak-kanakan.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan, bersabar dan berusaha sebaik mungkin. Mengurung diri di kamar bukanlah usaha yang terbaik. Namun keluar dari sini dan menghadapi semuanya dengan senyuman, itu baru namanya heroik.

Aku bangun dari kasur, berjalan ke pintu. Aku menghela nafas panjang. Ini yang terbaik, pikirku. Saat melangkah keluar, aku bisa merasakan senyuman di wajahku. []

Minggu, 23 Maret 2014

Tema 31 Maret 2014

Dear #smandacivil. , gimana tulisan-tulisan di edisi 22 Maret kemarin? Puaskah? dan apa ada smandacivil yang telat ngirim tulisannya? jangan bersedih ayoo kita mulai lagi membuat karya untuk Edisi 31 Maret 2014 tentunya dengan tema yang berbeda dong....

Ada yang Tau apa temanya ?
Kalau Kemarin Temanya adalah "Awal" lalu apakah untuk edisi selanjutnya temanya "Akhir" ? engga dong ... untuk edisi 31 Maret 2014 #Penulismanda akan ngasih Tema Bebas/tidak ditentukan ... jadi #smandacivil bisa menulis dan berkarya dengan bebas tanpa ada tema , tapi nanti tetap ya sesuai aturannya biar gampang hehehe ... tapi inget loh harus karya sendiri jangan copas ...

Jadi... ditunggu ya kreatifitas dan karya-karya #smandacivil.. kembangkan kreatifitasnya teman-teman jangan takut untuk berkarya ... 

ada yang nanya waktu pengiriman tulisan & Deadline #penulismanda kapan? 
Waktu Pengirimannya yaitu dari mulai sekarang, dan Deadlinenya Hari Senin pukul 12.00 WIB , cukup lama kan ? jadi #smandacivil punya waktu bukan nyari inspirasi buat bikin tulisannya... 

Selamat Berkarya #smandacivil !
VIVA SMANDA!

Sabtu, 22 Maret 2014

Tidak ada Akhir

Oleh : Admin Penulismanda



“Awal” …
Aku Kembali membuka buku yang diberikan oleh ayahku, sekarang aku berhasrat untuk menulis lagi pada buku ini, aku sedikit bingung untuk menuliskan apa yang aku ingin tulis aku hanya berpikir untuk memulai sesuatu pasti ada awalnya, bukan hanya sebuah cerita tapi segala sesuatu pasti mempunyai awal, ngomong-ngomong soal cerita aku sangat suka dengan sebuah cerita, cerita apapun baik itu cerita dongeng, fiksi, film apapun yang mempunyai jalan cerita. Oke aku menemukan sebuah ide untuk tulisanku kali ini.

Apakah Kalian Pernah berpikir lebih lanjut tentang sebuah cerita? Misalnya ketika sebuah novel yang sudah selesai kalian baca dan novel tersebut berakhir dengan happy ending dengan tokoh utamanya, apakah kalian pernah berpikir lagi bagaimana kehidupan tokoh tersebut setelah cerita itu tamat? , apakah ketika seorang Harry Potter berhasil membunuh Voldemort yang merupakan musuh bebuyutannya maka setelah itu Harry Potter akan terus bahagia? Apakah ketika Seorang Holmes berhasil memecahkan kasus sulit lalu setelah itu dia merasa puas dan bahagia terus? Apakah ketika seorang Snow White yang telah menikah dengan seorang Pangeran dan berhasil membunuh ibunya yang jahat lalu dia hidup bahagia setelah itu? Apakah kalian pernah memikirkan itu? Kalau saya sendiri sering melakukannya, mungkin hal ini agak sedikit aneh tapi disinilah hal yang unik… ketika sebuah cerita fiksi telah selesai ditulis oleh pengarang aslinya dengan hasilnya yang Happy Ending/Sad Ending kita bisa membayangkan lebih lanjut kehidupan tokoh-tokoh di dunia fiksi setelah cerita itu? Lalu kapan berakhir? Itu tidak Akan Berakhir sampai kalian semua berhenti berimajinasi…

Imajinasi itu adalah Awal dari segala sesuatu , mungkin kalian tidak asing dengan kata-kata : “Hidup Berawal dari Mimpi”  … dan saya setuju dengan itu … selama kita bermimpi semua hal dapat terjadi dan disaat itulah kita bisa melebarkan sayap kita dan terbang setinggi-setingginya , itu adalah Awal dari segalanya dan bukan Akhir dari sebuah cerita… Tidak Ada sebuah Akhir, bahkan kematian bukanlah akhir, bahkan Kiamatpun bukanlah akhir, bukannya dari situ kita akan membuka lembaran baru dan melakukan sesuatu yang baru … jadi menurut saya tidak ada sebuah akhir yang ada adalah Awal dan Selanjutnya…

Bisakah



Oleh   :  Amalia Ramadhani

Kelas  : X IPA 7


 
Katanya, kalau awal yang baik itu bagus. Bisa memotivasi. Tapi, menurutku tidak juga kok.
***
Setiap aku melihat ke arah beberapa piala itu, aku menjadi semakin merasa kesal dan benci terhadap semua hal. Aku menjadi sangat pemarah ketika hanya melihat piala itu. Piala yang dulu aku banggakan. Aku pamerkan kepada setiap teman-teman di sekolah. Karena piala itulah aku menjadi siswi yang terkenal satu sekolah. Bahkan beberapa siswa dan siswi dari sekolah lain pun tahu tentang diriku.
***
Aku sangat cinta kepada dunia seni. Secara spesifik, aku sangat suka dengan melukis. Entah apa yang membuat aku sangat menggemari kegiatan ini. Melukis itu sama saja dengan bercerita. Tetapi dengan sebuah gambar. Bukan hanya gambar asal-asalan. Tetapi, dengan cara menghayati objek itu sendiri.
Aku pernah mengikuti perlombaan melukis se-sekolah. Itu adalah pertama kali aku mengikuti lomba melukis. Aku dibujuk Yuri untuk mengikuti lomba itu. Karenanya, maka aku pun mengikuti kegiatan itu. Setelah mengikuti, ternyata aku dapat juara ke-1. Waaah aku sangat bahagia dan bangga. Begitu juga dengan Yuri, dia senang aku dapat juara. Yuri dapat juara ke-3. Memang lukinsannya bagus. Piala pertamaku aku simpan di yang paling ujung lemari.
Juri-juri senang dengan lukisanku. Beberapa bulan kemudian ada lomba di tingkat kota dengan perwakilan sekolah. Aku diajak guru-guru untuk mengikuti lomba tersebut. Sebenarnya, bukan hanya aku saja. Tera dan Yuri pun sebagai juara 2 dan 3 diikutkan pada lomba itu.
Lombanya sangat meriah. Para peserta terlihat sangat antusias terhadap perlombaan ini. Aku kira banyak sekali yang lebih dari kehebatan aku. Tapi, memang benar. Banyak dari sekolah lain yang melukis lebih indah dariku.
Tanpa disangka-sangka, aku dapat juara satu. Aku sangat bangga. Bangga sekali. Semua guru dan teman-temanku juga senang karena perwakilan sekolahnya mendapatkan juara pertama.
***
Karena pernah mengikuti lomba melukis se-kota, aku menjadi pede untuk mengikuti lomba yang lainnya. Walaupun, lomba-lomba itu Yuri yang mengajak. Aku mengikuti lomba melukis dengan tema yang bermacam-macam. Dan hasilnya? Aku selalu mendapat juara kalau enggak 1, 2, atau 3. Sedangkan Yuri selalu dibawahku.
Sejak pertama sampai yang terakhir kali mengikuti lomba aku selalu menang, aku menjadi anak yang sombong, angkuh, dan suka mengejek teman-teman. Mereka menjadi tidak suka padaku. Bahkan aku pernah mendengar Tya anak kelas atas mendo’akan aku agar aku tidak memenangkan lomba yang aku ikuti. Setelah mendengar itu, aku langsung menghampiri Tya dan menghujat Tya dengan kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan. Tya langsung meminta maaf dan air matanya bercucuran sangat deras.
Parahnya, aku mengejek sahabatku sendiri. Yuri. Aku bilang
‘lukisanmu sangat tidak berbudaya, tidak punya sisi seni, tidak ada bagus-bagusnya sedikit pun, yang ada hanyalah sampah!’
Yuri membalasnya dengan senyuman. Jelas-jelas aku sudah kejam sekali kepada Yuri, dialah yang mengajakku untuk mengikuti setiap lomba. Dan kalau Yuri tidak mengajakku untuk mengikuti lomba itu, aku tidak akan pernah mendapatkan juara apapun. Aku bukan apa-apa tanpa dia.
Aku juga bilang kepda Yuri, kalau dia itu tidak pantas untuk mengikuti lomba-lomba yang seperti aku ikuti. Lomba-lomba itu terlalu keren untuknya
Tapi apa yang aku lakukan pada Yuri? Mengejek lukisannya! Aku ini memang bukan teman. Dan aku sekarang memang tidak punya teman satu pun. Mereka menghindar. Mereka menjauh. Aku sendirian. Sepi. Tidak ada teman. Yang ada hanyalah lukisanku. Tidak hanya itu. Guru-guru pun menjadi sinis terhadapku.
***
Suatu ketika aku kalah diperlombaan tingkat nasional. Yuri menang walaupun jura ke-2, tetap saja yang namanya se-nasional pasti bergengsi. Yuri menghampiriku dan menghiburku. Aku sangat malu padanya. Padahal, aku sudah mengejeknya.
Kalau aku bisa kembali ke awal, aku ingin tidak juara saat perlombaan di sekolah. Aku ingin awal yang buruk bukan yang baik. Awal yang baik membuatku menjadi sombong. Aku ingin awal yang buruk supaya aku bisa belajar dari hal yang buruk dan berubah menjadi lebih baik.

Dimulai Dari Akhir

Oleh: Adinda P. Rahayu
Kelas: XI IPA 7



                Awal itu permulaan. Awal itu bagaimana suatu cerita dimulai. Bagaimana penulis mengenalkan latar belakang kejadian sebelum pembaca kenalan dengan pokok masalah. Iya, awal itu bagaimana cerita kita dimulai. Awal itu selalu bagian di mana aku bercerita tentang bagaimana semua kebetulan-kebetulan itu mempertemukan kita. Bagian di mana pertemuan kita menjadi awal ceritaku. Awal itu sesuatu yang baru.
                Tapi, awal? Haruskah awal ditempatkan di depan? Haruskah awal selalu ditaruh sebagai bagian pertama dari sebuah cerita? Maksudku, ceritaku tentang kita saja aku mulai sejak kamu masih bersamanya. Saat kamu masih sibuk menulis kisah kalian yang manis, romantis, indah, semua yang aku anggap sempurna. Saat kamu masih sayang padanya… ah, mengapa aku membahas ini?
                Ceritaku tentang kita tidak diawali dengan awal kisah kita. Bahkan ketika kamu sudah mengakhiri kisahmu, menyudahi semua kenangan-kenangan indah bersamanya, kamu memulai kisah baru. Yang pasti bukan denganku. Justru kisah kita baru dimulai tepat setelah aku mengakhiri kisahku sebelum kamu. Akhir dari kisahku adalah awal dari kisah kita.
                Kamu pernah nonton serial televisi “How I Met Your Mother”? Serial itu tentang Ted Mosby, seorang arsitek, yang menceritakan bagaimana dia bertemu dengan istrinya kepada anak-anaknya. Ted sudah bertemu dengan puluhan wanita, memacari banyak perempuan, tapi tak satupun adalah jodohnya. Sementara teman-teman gengnya, Lily Aldrin, Marshall Eriksen, Robin Scherbatsky, Barney Stinson, yang kebetulan (dan anehnya) saling berpasangan, Ted masih sendiri. Setelah sekian lama mencari-cari si “tulang rusuk” ini, dia ingin menyudahinya saja. Tapi, justru ketika Ted mengakhiri pencariannya itu, dia bertemu dengan jodohnya. Lihat? Akhir dari pencariannya adalah awal dari pertemuan mereka, dan awal dari kisah mereka.
                Mungkin suatu hari aku akan menulis jurnal dengan judul “How I Met Your Father”. Oh, ya, kamu pasti akan kutulis di buku itu. Begitupun mereka yang aku temui sebelum kamu. Dan mereka yang kutemui setelah kamu. Mungkin aku akan bertemu kamu lagi. Mungkin juga tidak, tapi siapa tahu? Yang pasti akan kukatakan pada anakku kelak sebelum mereka membaca jurnalku itu adalah bahwa awal jurnalku hanya akan menjadi awal jurnalku. Tapi, sisi baiknya adalah ketika jurnalku berakhir, akhir itulah yang akan menjadi awal bagian cerita lainnya.