Sabtu, 22 Maret 2014

"AWAL", Satu Kata Penuh Makna

Oleh    :   Ditya Puteri
Kelas  :  X IPA 9



Kata "Awal" sudah tidak asing di telinga kita. And yes, sekali lagi, satu kata yang sederhana ini penuh dengan makna. I mean, penuh makna disini bukan berarti ambigu. Tapi kata yang berarti dalam hidup kita, kata yang penting on every pages of our life, kata yang bermakna bagi kita. Hidup kita dimulai dengan "Awal". Lagi-lagi si "awal" ini yang muncul. Why this word always show up in front of our eyes?
The answer is, setiap langkah yang kita ambil pasti adalah sebuah "Awal". Setiap pilihan yang kita ambil pasti adalah sebuah "Awal". Awal inilah, yang menentukan kehidupan kita, dan Awal inilah yang menentukan 'Akhir' juga.
I mean, contohnya saat kita baru masuk SMA, itu berarti awal yang baru. Atau bahkan hal yang mungkin gak pernah terlintas di benak kita, saat ruh kita pertama kali dihembuskan kepada janin ibu kita, "Awal" hidup kita dimulai.So basically, this word is the starter; kata pertama dalam setiap chapter hidup kita.
Awal yang baik, selalu diikuti dengan Akhir yang baik, and well begitupun sebaliknya, Awal yang buruk akan diikuti dengan Akhir yang buruk. Terus gimana kalau misalkan kita memilih "Awal" yang buruk, lalu akhirnya kita sadar bahwa itu salah dan akirnya kita memilih untk berubah? Like I said before, setiap pilihan yang kita ambil adalah sebuah "Awal". Mungkin awal yang kita pilih buruk, dan akhirnya adalah saat kita sadar bahwa "Awal" yang kita pilih itu salah, that's the ending, regrets and sorry. Lalu akhirnya, kita memilih "Awal" yang baru lagi, yaitu untuk berubah menjadi lebih baik.
Don't you think it's true? "Awal" mungkin kata yang sepele, but the meaning is the most important one, kaalu kita mau membuka mata kita, akan hal kecil sekalipun.

So, why this word always show up in front of our eyes?
Karena "Awal" adalah kata pertama yang kita torehkan dalam hidup kita.

Karena "Awal", adalah satu kata yang penuh makna.

Desain Coba-coba

Oleh: Aulia D. Putri
Kelas: X IPA 2





“Biaann, tungguin dong. Buru-buru banget sih kaya mau apa aja”, rengek Luna seraya berlari kecil. “Gue ada janji Lun, elo pulang duluan aja ya”. Akhirnya dengan langkah gontai Luna pun pulang sendiri tanpa Bian. Dalam hati ia mengutuk orang yang membuatnya terpisah dari Bian.

Malam pun tiba. Seperti malam kemarin, malam ini pun pikirannya tetap abu-abu. Luna masih tak menemukan inspirasinya dalam mendesain baju. Padahal, deadline lomba tinggal menghitung hari. Ya, seminggu tak cukup untuk memikirkan desain baju casual pikirnya. Apalagi beban pikirannya bertambah karena tugas yang menggunung dan menunggu untuk diselesaikan. Tiba-tiba handphone Luna bergetar, tertulis nama Bian di layarnya.
“Hai Lunn!! Elo sehat kan?”
“Sehat apanya Bi? Muka gue kucel nih mikirin desain baju. Bantuin dong Bi, elo kan pemerhati aksesoris berjalan”, ucap Luna sekenanya.
“Asal aja lo, deadline lusa kan? Elo masih belom bikin? Ya ampun Luna, elo pikir kantor pos cuma ngirim punya lo doang?”
“Buruan ke rumah gue, kita tempur malem ini”
“Siap bouss, siap-siap dulu ya”, ucap Bian seraya menutup telepon.

Sambil menunggu Bian, Luna terdiam sambil mencari inspirasi. Ia berkali-kali memainkan pensilnya di atas kertas. Berkali-kali pula ia menghapusnya. Hening sesaat, Luna menyerah dan tak tahu harus membuat desain apa. Bian pun datang memecah keheningan. Ia mencoba membantu Luna dengan celotehannya, dimulai dari sasaran pengguna baju hingga corak dan warnanya. Tetapi Luna hanya diam, larut dalam pikirannya. Bian tak mengerti mengapa Luna yang selalu mempunyai ide cemerlang tiba-tiba menjadi pendiam bahkan seringkali tak memiliki ide.

Malam berlalu dengan cepat, tepat pukul 2 dini hari pekerjaan Luna selesai. Inilah karya pertamanya yang dikirim untuk mengikuti loma. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Bian karena telah membantunya. Lomba ini segalanya bagi Luna, karena jika ia memenangkan lomba ini ia akan dapat beasiswa dan berkesempatan mendiskusikan karya-karyanya selama ini bersama desainer terkenal. Ia hanya ingin menunjukan pada Helen, sang aksesoris berjalan, bahwa ia dapat mewujudkan impiannya.

Dua bulan kemudian, pengumuman pun tiba. Pengumuman dikirim melalui pos, Bian tak sabar menunggu hasilnya. Ia ingin melihat sahabatnya menjadi desainer terkenal di usia muda. Ia pun pergi ke rumah Luna dengan raut wajah senang.
“Gimana Lun hasilnya? Elo juara berapa?”, ucapnya dengan wajah berbinar-binar.
“Gue kalah Bi, gue emang ga bakat. Mungkin Helen bener, desain gue itu monoton. Ga ada bagus-bagusnya”, ujar Luna lesu.
“Elo ngomong apasih Lun, mungkin elo belom menang sekarang. Tapi entar juga elo pasti menang”
“Kalo kalah, ya kalah aja Bi. Awalnya aja udah gini, gimana kedepannya?”
“Ngomong tuh yang bener Lun, ga semuanya bakal berakhir buruk kalo elo mau usaha”, ucap Bian seraya menguatkan Luna.

                             ***

Dengan wajah muram ditatapnya brosur dari Bian. Brosur lomba mendesain gaun itu sebenarnya berhasil menggerakan hati Luna. Tapi ia enggan mengikuti lomba tersebut karena takut akan kalah lagi. Tak henti-hentinya Bian menyemangatinya, tapi ia tetap bingung.

Tiba-tiba ide muncul dibenaknya, ia mencoba mengekspresikan idenya di atas kertas. Ia tersenyum puas dan diam-diam mengirimkan karyanya tanpa diketahui Bian. Bian berpikir bahwa Luna sama sekali tak mengubrisnya, karena itulah ia menyerah dan tak berbicara lagi tentang fashion. Mereka menyadari bahwa hubungan mereka merenggang. Luna rindu celotehan Bian, tapi ia menyadari bahwa ia sendirilah yang membuat hubungannya dengan Bian tak berjalan baik. Ia melupakan hasil lomba mendesain gaun yang ia ikuti sebulan lalu. Ia sibuk memikirkan kegelisahan hatinya dan bagaimana cara agar ia dan Bian dapat seperti dulu lagi.

Kiriman pos untuk Luna pun datang. Anehnya, kali ini berupa barang. Ia bingung dan merasa tak membeli apapun melalui online shop. Ia tenganga saat mengetahui bahwa isinya adalah gaun hasil buatannya sendiri. Ia menang, dengan spontan ia menelepon Bian.
“Halo Bian?”, ucapnya terbata-bata.
“Iya Lun, ada apa?”, jawabnya dingin.
“Gue menang lomba!! Ga juara 1 sih, tapi gue seneng banget. Buruan ke rumah gue, elo harus liat gaun buatan gue”
“Sumpah Lun? Oke gue otw, elo emang ikut lomba apaan?”
“Buruan ke rumah gue, entar gue ceritain”
Selama perjalanan, Bian tak berhenti tersenyum. Dalam hatinya terpancar aura bahagia. Ketika di rumah Luna, mereka berpelukan melepas rindu satu sama lain. Bian tersenyum puas meliat hasil karya sahabatnya tersebut.
“Gue bilang juga apa, elo tuh berbakat Lun”, ujarnya sambil meremas pundak Luna.
“Elo bisa aja Bi, ini juga gara-gara elo. Awalnya gue coba-coba, gue ga kepikiran bakal menang. Makasih ya, elo emang loveable banget deh Bi”
“Kalo elo serius pasti deh Lun. Coba progress elo dari dulu kaya gini, elo pasti bakal lebih dari Helen”
“Gue udah ga peduli sama Helen. Gara-gara dia, gue jadi ambisius banget. Pas kalah gue jadi ga percaya diri lagi Bi, tapi elo nyemangatin gue. Makanya gue nyoba ikutan lomba ini. Makasih banget loh ya”
“Iya, kan udah gue bilang. Kalo elo usaha, pasti bakalan bisa. Ga semua yang awalnya buruk bakal berakhir buruk juga Lun. Dalam beberapa hal, start emang nentuin kedepannnya. Tapi buat masalah lo, start itu ga penting. Yang penting progress dan cara elo bangkit kalo elo terpuruk”
“Iya Mama Bian, I love you!”, pekik Luna sambil memeluk Bian erat.

Awal

Oleh    :  Retno Putri A
Kelas  :  X MIIA 3



Kita dipertemukan di atas tanah ini

Tanah ini..

Kata orang, tanah ini penuh warna

Kata orang, tanah ini penuh dengan suka cita masa muda

Kata orang, tanah ini tanah yang penuh kebahagiaan

Tapi..

Orang bilang tanah ini juga penuh tipu muslihat

Orang bilang tanah ini bisa terisi dengan warna kelabu

Orang bilang tanah ini bisa menjerumuskan kita kepada dunia hitam


Kita dipertemukan di atas tempat ini

Tempat ini..

Tempat kita mencari ilmu

Tempat kita berbagi suka duka

Tempat kita membagi kisah

Tempat kita menggoreskan cerita-cerita

Tempat yang akan menjadi cerita indah di masa datang

Tempat yang akan membuat kita tersenyum saat memandangnya

Tempat ini.. Awal perjalanan kita untuk terus tumbuh dewasa

Tempat ini.. Pijakan awal kita untuk terus berlari menuju kesuksesan

Awal dari semuanya

Oleh    : Shelly Ila Amalia
Kelas    : X IPA 4

Keberhasilan? Kegagalan?
Berasal dari suatu awal
Mempengaruhi semuanya
Entah untuk pertengahan
Entah untuk hasil di akhir
Bismillah adalah kata yang tepat
Tepat untuk mencapai keberhasilan
Dimana menjadi tolak ukur untuk semangat keberhasilan

Hai, Awal.

Oleh: Ainu Athifah R.A.I
XI IPA 2 / 2015 (?)



2012.
Mari kita berbicara tentang awal sekarang.
.
.
.
.
.
Mungkin, sesuatu yang buruk di awal, akan selalu buruk setelahnya. Itu yang sebelumnya aku percayai. Berbagai kejadian menyuruhku untuk beranggapan begitu. Contohnya? Ambil saja yang gampang. Jika kau bertemu seseorang untuk pertama kali dan punya pengalaman buruk atau firasat buruk terhadapnya, kau akan terus beranggapan buruk tentang orang itu. Ya, awal menentukan segalanya—begitu kataku, dulu.
Tak mudah untuk mengubah apa yang sudah kita alami di awal. Aku sendiri mengalami begitu. Kau tahu, aku punya perasaan tidak enak saat pertama kali kulihat daftar nama kelas itu. Aku selalu beranggapan buruk terhadap kelasku—hingga beberapa bulan, aku masih merindukan kelasku yang lama. Sulit untuk diubah—pikirku, dulu. Aku merasa kesulitan untuk menerima kelasku, walau setengah diriku sudah beradaptasi dengan kelas itu. Sungguh menyiksa kalau kau tetap mempertahankan pikiran buruk yang dimunculkan di awal, percayalah.

Tapi, akhirnya aku senang-senang saja dengan kelas itu. Kau tahu mengapa? Lebih baik kau mengubah dulu pikiranmu itu. Bukan awal yang menentukan segalanya, tapi dirimulah yang menentukan. Tak apa jika di awal semua tidak sesuai dengan perkiraanmu, tapi ayolah, di prosesnya kau harus mengubah cara pandangmu dan terima saja keadaannya. Kau tahu, jika dirimu yang mengubahnya, semuanya akan berakhir sesuai dengan perkiraanmu. Aku sudah mengalaminya. Aku mampu mengatasi awal yang buruk sekarang, masa kau tidak?
Ayolah, mari kita berkata pada awal; “Hai awal, tak apa kau buruk dan tidak sesuai perkiraan tapi lihatlah nanti, aku akan mengubahmu dan bertemu dengan akhir yang sesuai.”
 
p.s catatan di hari sebelum masuk sekolah. Apa kabar 1 tahun yang lalu? I’m kinda missing you guys!

Awal Untuk Maju

Oleh    : Fasya Hadiyan Aprilingga
Kelas   : X IPA 4



“Semua itu berawal dari kerja keras untuk meraih kesuksesan. Dan janganlah takut untuk mengawali  itu.”
-Fasya

            “Sssssttt ahhh!!! Lo berisik banget sumpah, Nat.” Reno menatap lelaki di sebelahnya dengan tatapan jengkel. Namun yang ditatap malah mengedikkan bahunya dan kembali memainkan gitar akustik yang selalu ia bawa ke sekolah.

“Terserah gue napa, Ren.” Balas Nathan datar sambil memainkan gitarnya. Entah apa yang merasuki tubuh Reno, ia benar-benar jengkel saat mendengar petikan gitar yang Nathan mainkan. “Lo ganggu gue ngerjain tugas, bisa-bisa kalo gak selesai gue kena hukum. Kenapa sih lo gak ikut lomba apa kek gitu? Biar lo bisa nunjukkin keahlian lo main gitar kesemua orang gak ke gue sama temen satu kelas aja.”

Nathan menatap teman sebangkunya geli lalu meletakkan gitarnya di samping kursi yang didudukinya. “Iya deh, gue berhenti. Lo kasian banget sih No belum ngerjain tugas. Emang semalem lo ngapain aja? Dan untuk usulan lo itu gue belum bisa terima, gue belum siap mental, bro.” Ungkap Nathan yang sekarang sedang menatap Reno dengan miris. Reno hanya diam tak menjawab pertanyaan teman sebangkunya itu dan kembali serius menyalin jawaban di bukunya.

“Heh, Nat!!” Tiba-tiba seorang gadis mengagetkan mereka berdua membuat Reno mencoret tugas yang sedang disalinnya. “Eh sumpah ya, Ta lo bikin gue nyoret tulisan gue nih. Ah lo parah gue udah nyalin banyak-banyak nih.” Ucap Reno geram pada gadis manis dihadapannya.  “Sori-sori ya, No. Gue bener-bener gak sengaja. Sebenernya gue ada info buat Nathan.” Lirihnya dengan suara lembut pada kedua lelaki yang sedang menginjak dewasa dihadapannya.
Nathan menatap Talia dihadapannya. “Info apaan, geulis?” Talia mencibir panggilan untuk dirinya yang diucapkan Nathan tadi, lalu dirinya mengambil kertas selembaran yang didapatnya di depan Mading pagi tadi. “Nih ada kontes musik loh, Nat. Lo kan bisa main gitar, suara lo bagus juga. Mending lo ikutan ini aja nih, lumayang juga hadiahnya. Itung-itung nambah pengalaman lo.” Ujar Talia panjang lebar kepada Nathan. Talia pun memberikan brosus yang diambilnya pagi tadi kepada Nathan.
Nathan pun mengambil brosus yang diberikan Talia lalu membaca isi brosur itu. “Hemmm.. Lumayan juga, tapi gak tau deh Ta gue masih bingung.” Ucapnya lalu memberikan brosur yang dipegangnya pada Talia.

Talia menatap Nathan jengkel. “Nat, lo tuh ya, gue nih sama Reno sering banget ngasih info-info tentang kontes ini itu, tapi tetep aja lo nolak, nolak, nolak lagi. Lama-lama kita berdua cape loh ditolak terus sama lo. Kita nih mau bantu lo supaya lo bisa nunjukkin kemampuan lo yang luar bisa itu.” Ucap Talia dengan wajahnya yang lesu. Nathan hanya bergeming tak menjawabnya, ia memikirkan sesuatu yang selama ini ia khawatirkan apabila ia mengikuti kontes bermusik itu. Bisa saja saat dipanggung nanti, tiba-tiba perutnya sakit karena gugup dan menyebabkan ia salah memetik senar gitarnya lalu senar itu putus. Sangat memalukan, bukan? Ia tahu kekhawatiran itu memang pasti dialami oleh setiap musisi saat pertama kalinya mereka pentas di atas panggung dan dilihat banyak sekali orang. Namun entah kenapa ia benar-benar tidak bisa menghilangkan kegugupan itu dari dalam dirinya karena ia belum pernah sama sekali memperlihatkan keahliannya itu pada orang lain selain orang tuanya, kakaknya, dan teman sekelasnya ini.

Reno menepuk bahu teman sebangkunya itu sambil tersenyum. “Ayolah, Nat. Lo tuh gak boleh sia-siain kemampuan lo itu. Lo bilang ke gue lo mau sukses bermusik, tapi dari kesuksesaan itu semua ada awalnya loh, Nat.”

Talia mengangguk mendengar ucapan Reno, lalu dirinya menambahkan. “Bener Nat kata Reno. Semua itu ada awalnya, kalo gak ada awalnya berarti juga gak ada akhirnya dan berarti kalo lo gak mengawali karir bermusik lo ini, karir lo yang lo udah impi-impikan gak bakal ada akhirnya. Lo gak bakal sukses diakhir nanti. Lo tau kan Alexander GrahamBell bisa nemuin telepon tuh karena awalnya dia mau berusaha, Rakyat Indonesia bisa buat Negeri ini merdeka karena mereka awalanya berjuang untuk tetap bersatu melawan Belanda sama Jepang agar negara ini merdeka. Nah lo? Mau sukses tapi gak mau berusaha dari awal? Dari titik dimana lo sama sekali masih bernilai nol, dimana lo masih belum punya pengalaman banyak dan gak tau apa-apa kaya bayi yang masih suci. Kalo lo gak mau mengawali kariri lo itu, bye-bye deh masa depan lo yang cerah. Dan ya Nat, gak ada ruginya lo ikut tuh kontes, malahan lo nanti dapet pengalaman baru, kemampuan bermusik lo bisa nambah, lo jadi gak bernilai nol lagi malah lo bisa nilai 50. Dan ya kalo lo udah nyobain manggung di depan orang-orang banyak, pastinya ada perasaan dalam diri lo yang ngebuat lo nambah percaya diri, gak grogi lagi di depan banyak orang, dan ada perasaan dimana lo malah pengen tampil lagi nunjukkin kemampuan lo itu ke banyak orang. Itu semua bikin lo tambah maju kan, Nat?”

Nathan hanya merenung mendengar penjelasan panjang lebar dari Talia. Hatinya benar-benar terenyuh saat mendengar nasihat dari Talia. Memang semua kesuksesaan itu pasti ada awalnya, dan gak salah juga kan mencoba hal baru, hal yang lebih menantang. Dan kegiatan itu pun sama sekali tidak ada ruginya. Malahan ia bisa belajar dari pengalaman itu. Yang pasti kegiatan itu sangat positif bagi dirinya. Ia benar-benar harus menuruti nasihat teman-temannya ini, memang orang tuanya pun sering sekali menyuruhnya untuk mengikuti suatu kontes tapi entah kenapa baru kali ini hatinya tergerak untuk mengikutinya. Dan setelah dipikir-pikir dengan matang, memang tak ada salahnya mencoba daripada tidak sama sekali. Ia tersenyum memandang teman-temannya ini. “Gua kayanya bakal ikut deh itu kontes.”

Ucapan itu sontak membuat Reno dan Talia menjerti kesenangan. Keduanya pun sempat tos untuk merayakan keberhasilan mereke membujuk Nathan. Lalu keduanya menatap Nathan bahagia. “Nat, lo emang the best lah. Gue sama Talia bakal nonton kontes itu.”

“Ya, Nat. Kita berdua, bahkan nih ya satu kelas bakal nonton aksi lo yang keren.” Ucap Talia begitu gembira.

Nathan tertawa melihat aksi kedua temannya itu. Ia benar-benar yakin, sangat yakin akan mengikuti kontes ini. “Ya ya, gue bakal tunggu kedatangan kalian nanti. Dan menurut gue ikut kontes ini adalah awal dari kesuksesaan gue nanti. Dan menurut gue memang semua itu harus ada awalnya supaya ada akhirnya. Tentu akhirnya yang bagus, yaitu sukses. Semua orang pengen sukses tapi kita harus mengawali kesuksesaan itu dengan bekerja keras, tentu aja. Thanks a lot my friends. Kalian the best banget deh bisa ngebuat hati gue luluh gini.” Ia pun memeluk kedua temannya dan setelah itu menghambur pergi keluar dari kelas meninggalkan kedua temannya.

Minggu, 16 Maret 2014

Tema 22 Maret 2014

Dear #smandacivil. , gimana tulisan-tulisan di postingan re-aktif? buat kedepannya pasti mau dong tulisannya juga di pajang di blog penulismanda. Sekarang Admin mau ngumumin tema buat edisi 22 Maret 2014

Ada yang bisa nebak engga apa temanya ? hayoo, 
Berhubung ini adalah mulai kembali pengaktifan kembali blog #penulismanda jadi temanya ga ke jauh-jauh kok dari itu, ada yang udah tau apa itu? 
Yap Tema buat tanggal 22 Maret 2014 adalah "AWAL"  , karena segala sesuatu pasti punya awal kan #smandacivil ? 

Jadi... ditunggu ya kreatifitas dan karya-karya #smandacivil dengan tema "AWAL" , kembangkan kreatifitasnya teman-teman jangan takut untuk berkarya ... 

ada yang nanya waktu pengiriman tulisan & Deadline #penulismanda kapan? 
Waktu Pengirimannya yaitu dari mulai sekarang, dan Deadlinenya Hari Sabtu pukul 16.00 WIB , cukup lama kan ? jadi #smandacivil punya waktu bukan nyari inspirasi buat bikin tulisannya... 

Selamat Berkarya #smandacivil !
VIVA SMANDA!