Sabtu, 15 Maret 2014

Senyum Biru

Oleh  : Aulia D Putri
Kelas : X IPA 2 

Kala itu langit mendung dan mentari tak menampakkan wajahnya nan indah. Ia tak bersinar seperti pagi-pagi biasanya. Entah apa yang dipikirkan sang mentari hingga ia enggan memberikan sebagian cahayanya untuk bumi ini. Tapi suasana tersebut tak mengurungkan niat Biru untuk tetap pergi ke sekolah.

Biru. Gadis berambut panjang ini bukan berasal dari keluarga berada. Ia hidup serba kekurangan di sudut kota yang kumuh dan bisa disebut tak layak untuk ditinggali. Setiap pulang sekolah, ia membantu ibunya berjualan tanpa kenal lelah. Warung kecil-kecilan inilah mata pencaharian keluarga Biru. Ayahnya telah meninggal semenjak Biru berada di Taman Kanak-kanak.

Jarak rumah Biru memang cukup jauh, tak heran jika Biru menjadi langganan amarah guru piket. Tak jarang pula Biru mendapat hukuman menulis karangan tentang pentingnya menghargai waktu. Beruntung Biru senang menulis, sehingga ia mudah menyelesaikan hukumannya. Entah sudah berapa puluh kali Biru mendapat teguran dari wali kelasnya. Bahkan beasiswanya hampir dicabut dikarena ia tak pernah datang tepat waktu. Tetapi apa daya, meskipun ia berlari ke sekolah, tetap saja ia terlambat. Ia tak memiliki kendaraan, naik angkutan umum pun tak bisa. Terkadang uang saku ia tak dapat pula.

Menulis selalu membuat Biru tenang. Biru suka tulisan. Tulisan itu indah, tulisan tak pernah berisi kebohongan menurutnya. Ia tak peduli meski harus menulis disetiap lembaran buku lusuhnya. Tulisan itu bagai udara bagi Biru. Semua anak disini tahu, Biru mendapatkan beasiswa dikarenakan tulisannya. Goresan pena serta imajinasinya mampu membuat pembaca hanyut dalam tulisannya. Tak heran jika Biru diikutkan kembali dalam perlombaan menulis cerpen tingkat nasional.

Walaupun Biru senang bersekolah disini, tetapi kebahagiaan Biru belum lengkap karena ia tak memiliki teman. Ia selalu berpikir apalah arti seorang teman. Ia memang tak percaya teman, ia sudah cukup menderita dengan mempercayai teman. Kenangan buruk terus menghantui Biru sehingga ia selalu menyendiri. Memang benar ia kesepian, tapi ia tak butuh teman. Ia hanya butuh sesuatu yang menguatkannya agar tetap disini sampai lulus, yaitu tulisannya.

Sampai suatu hari Noona, salah satu teman sekelas Biru mengetahui penyebab terlambatnya Biru selama ini. Rumah Noona pun ternyata tak begitu jauh dari Biru, ia beberapa kali menawarkan tumpangan pada Biru tetapi selalu ditolaknya. Biru seakan tak ingin dunia luar memasuki kehidupannya. Ia betah berlama-lama dalam kesendirian, bahkan ia tampak menikmati saat-saat sendirinya dengan bersenandung kecil sambil menuliskan imajinasinya.

Entahlah, semua anak di kelasnya menganggap Biru misterius. Biru tak pernah mau diajak ke kantin atau belajar kelompok. Ketika bicara pun pandangannya kosong, menatap ke bawah, bahkan jawabannya seringkali tak sesuai topik. Biru tak pernah tersenyum, entah apa yang dipikirkan Biru tentang teman-temannya. Ia terlalu sibuk dengan tulisan, sering kali ia mengasingkan diri di tengah ramainya ruang kelas. Memori pahit tentang pertemanan masih melekat di benaknya. Mentalnya belum cukup kuat untuk merasakannya kembali. Keberaniannya belum cukup untuk dekat dengan orang lain di sekitarnya.  Pengalaman masa lalunya terlalu gelap untuk ia selami kembali.

Tak ia pedulikan perhatian beberapa orang temannya. Baginya itu semua hanya perhatian palsu. Tak ia pedulikan simpati beberapa temannya. Baginya semuanya hanya didasari rasa kasihan. Dan ia berpikir ia tak butuh dikasihani. Hanya tulisan yang menguatkannya, yang ia butuhkan saat ini adalah ide-ide cemerlang yang mengalir agar ia bisa mengirimkan karyanya untuk diikutsertakan lomba menulis cerpen tingkat nasional. Menulis dan menulis, itulah kegiatan Biru beberapa hari ini. Berkali-kali ia berganti topik karena ia tak menemukan ide. Ia bingung harus bertanya pada siapa, ia tak punya teman. Temannya kini adalah tulisan, tapi ia masih berkutat dengan imajinasinya. Waktu hanya tinggal 2 hari lagi tetapi ia belum menuliskan apapun. Ia takut jika ia tak menyelesaikan tulisan ini beasiswanya terancam dicabut.

Keesokan harinya ia kembali terlambat masuk sekolah. Kini wali kelasnya sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi. Sebagai hukumannya, Biru di skors dari sekolah. Sungguh tak terbayang olehnya bagaimana reaksi orang tuanya ketika mengetahui ia mendapatkan hukuman seperti ini. Biru keluar dari kelas dengan air mata menitik di pipinya. Ia tak sanggup lagi membendung kesedihannya. Ia di skors, ia belum sempat pula menyelesaikan tulisannya. 

Tiba-tiba dari dalam kelas Noona berlari menghampirinya. Namun Biru tak peduli. Ia masih hanyut dalam kepiluannya. "Biru... Jangan menangis. Aku mengerti perasaanmu" ucap Noona mengelus rambut panjang Biru yang terurai. Namun Biru tak menjawab apapun ia hanya meneruskan tangis isak pilunya. Noona mencoba menghiburnya namun Biru tetap menangis tak terpengaruh dengan celoteh panjang Noona. Akhirnya Noona mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berbicara pada wali kelasnya. Ia kembali masuk ke kelas dan meninggalkan Biru terduduk sendiri disana.

"Teettt" bel berbunyi tanda waktu pulang tiba. Noona dengan cepat berlari menghadap wali kelasnya. Mencoba bernegosiasi. Beberapa menit berlalu wali kelasnya akhirnya mengerti. Noona keluar ruangan dengan hati lega. Berita baik ini harus ia beritahu pada Biru. Biru pasti sangat senang mendengarnya. 

Sebelum pulang Noona pergi mengunjungi rumah Biru. Biru sedang duduk melamun dihalaman rumahnya. Ia tak melakukan apapun, buku lusuh dan pena yang biasa ia genggam tak ada disana. Noona duduk di samping Biru. "Biruu aku punya kabar gembiraa." Ucapnya riang. Namun Biru hanya memanglingkan mukanya menatap Noona dengan pandangan kosong. "Kamu ga jadi di skors. Aku tadi bilang sama ibu wali kelas." Mendengar itu matanya langsung berbinar. "Benarkaahh?" Ucap Biru riang. Noona mengangguk meyakinkan Biru. Dengan spontan Biru memeluk Noona erat "Makasih Noona." Ucap biru. Noona membalas pelukan Biru. Tapi tiba-tiba Biru terdiam kembali. Noona heran melihatnya, ditatapnya Biru dengan pandangan penuh harap agar Biru sedikit terbuka terhadapnya. "Percuma saja aku tak jadi di skors Noon, beasiswaku akan segera dicabut." Ucap Biru lirih.
"Kenapa harus dicabut, Bir? Besok pagi aku akan jemput kamu, kamu ga akan terlambat lagi."  
"Aku belum menyelesaikan tulisanku, Noon. Aku gatau harus menulis apa. Aku ga bisa ikut lomba lagi."
"Aku tau kamu berbakat, aku yakin kamu bisa Bir. Tulisanmu itu penuh kejujuran, karena itu semua orang suka. Ayo kita buat tulisan, aku akan bantu kamu cari ide." Ucap Noona seraya menarik tangan Biru.

Akhirnya Biru berhasil menyelesaikan tulisannya. Wali kelasnya tersenyum puas karena tulisan Biru terkesan sangat nyata. Biru pun sudah tak terlambat lagi. Berkat Noona, kini Biru sadar teman temannya tulus memberikan perhatian dan simpati padanya. Ia sadar pengalaman masa lalunya seharusnya ia jadikan pelajaran bukan ketraumaan yang mendalam.

Pahlawan dibalik Layar

Oleh : Agtika Purwanto
Kelas : XI IPA 3

Jurnal atau jurnallistik sangat akrab dengan wartawan, fotografi, majalah, majalah diding. Jurnal bermain dengan pena dalam dunianya. Sepintas peranan jurnal agak membayang di balik menarik dan hebohnya setiap berita dan seni-seni hasil karya para tangan dan otak kreatif seorang jurnalistik. Memang sepintas juga gambaran tentang jurnalistik adalah crew dari segala macam acara pengetahuan, berita, history dsb. Yang terbayang hanya seorang yang terlalu banyak mencari tahu tentang segala sesuatu, mebawa-bawa kamera, membawa note’s dan menuliskan berita, bahkan terkesan menyebalkan. Ada satu sisi yang mungkin tidak tersadarkan di mata masyarakat, satu peran yang tak tak tersadarkan dari seorang jurnalistik yaitu pahlawan di balik layar. Pahlawan identik kuat dengan perjuangan dan jasa bagi banyak orang atau suatu kejadian yang bersejarah dan terukir lalu dikenang. Pahlawan kemerdekaan dengan segala tumpah darahnya membela negara Indonesia hingga merdekanya. Guru pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang memepertahanka kualitas pendidikan bangsa pada pemuda-pemudi calon pemimpin di masa depan dari masa ke masa. Seorang polisi, tentara, dokter mereka semua adalah pahlawan yang terukir di setiap perjuangan mereka.Siapa yang mengukirnya di mata dunia? Publik pun dapat tahu dan membaca bagaimana detail perjuangan mereka lewat majalah, koran dan televisi dengan ringkas dan dapat dijadikan suatu sejarah.. Disinilah mulai terasa tidaknya peran pahlawan di balik layar bagi para jurnalis yang telah membawa kisah-kisah dan gambar-gambar sejarah dengan perjuangan seorang jurnal untuk dikemukakan di muka publik. Kita semua bisa lihat banyak perjuangan seorang jurnal yang berjuang mendapatkan informasi penting bagi masyarakat mulai dari pengorbanan waktu,biaya,tenaga bahkan nyawa.Melalui tulisan yang mendokumetasi setiap kejadian, terasakah itu semua bagi publik yang sudah dapat menikmati hasil jerih payah mereka yang biasanya hanya bertepuk tangan bangga dan memuji hanya dari tampak depannya saja tanpa bertepuk tangan bagi pejuang yang telah membuat dan mendapatkan hasil yang membanggakan dan bernilai guna penting dari karya tulisnya yang berdasar fakta opini,tentunya butuh perjuangan sampai di muka publik .

Sadarkah saat setiap orang sedang menonton suatu berita di televisi, seperti cotohnya berita tentang “Amuk Masa yang Mendemo Depan Gerbang Gedung Pemerintah”, akankah bisa melihat secara detail saat pendemo mengamuk dengan melempar batu,membawa benda tajam bahkan senjata api, terfikirkah bagaimana proses pengambilan gambar pada saat tragedi itu terjadi sampai ke halayak. Betapa berbahayanya situasi di tengah amuk masa yang membabi buta dengan berbagai senjata berbahaya di tangan mereka. Tetapi siapakah yang turun tangan langsung ke tengah emosi yang tak terkendali tersebut ? Turun langsung tanpa membawa persenjataan ataupun pelatihan bela diri di tengah amuk masa hanya untuk memberikan suatu berita yang berguna bagi masyarakat ? Disinilah peran jurnalistik sebagai pahlawan. Jurnalistik yang merekam semua kejadian di tengah ketidakpuasan masyarakat pada pemimpinnya, jurnalistik yang berusaha menyampaikan langsung pada para pemimpin yang terduduk pada kursi mereka yang mendengar suara rakyatnyapun tidak sama sekali karena pengamanan dan tertutup oleh tembok dan deruh suara mesin penyejuk ruangan mereka sampai tak bisa mendengar suara rakyatnya di luar sana yang berteriak menyampaikan aspirasi mereka dengan panas terik matahari yang menimbulkan emosi dan kekerasan. Jurnalis turun ke tengah mereka,ikut merasakan, mengambil semua gambaran emosi mereka dan di sampaikan melalui televisi berharap mereka yang terduduk itu dapat melihat langsung dan tergoyahkan hatinya. Terfikirkah betapa bahayanya pengambilan gambar di tengah amuk masa tersebut ? Terfikirkah betapa perjuangan jurnalistik untuk merangkum semuanya dengan berbagai teror dari pihak yang merasa dirugikan atas tindakannya ? Tidak.  Padahal dengan adanya berita di majalah,koran,televisi dengan jerih payah jurnalistik dapat mengubah dunia bagi para pembaca ataupun pendengarnya, tapi itu hanya di balik layar. Seorang jurnalistik yang sesak hatinya saat melihat ada sesosok anak yang memiliki kemampuan tapi jauh dari dunia pendidikan yang memadai sering mengangkat kisah anak-anak kurang beruntung hingga mereka dapat bantuan. Contohnya seperti acara-acara yang membahas kisah anak negeri di pelosok-plosok nusantara. Jurnalistik akan ke sana mengikuti seputar perjalanan hidup mereka, merekam dan mencatat hingga sampai ke mata para dermawan yang dapat membantu. Terfikirkah bagaimana perjuangan untuk sampai ke pelosok wilayah yang sangat jauh dan tinggal bersama mereka berbagi cerita dan membantu hingga mereka dapat mendapatkan hak pendidikan ? Tidak. Pada saat suatu tragedi yang menghakimi keadilan seseorang di meja hijau, jurnalistik akan menayangkan kecurangan yang ada di balik semuanya hingga semua orang dapat menilai dan meihat sampai membantu. Terfikirkah betapa berbahayanya membela pihak yang benar dari pihak yang salah dan akan balas dendam ? Tidak. Tidak sedikit para jurnalis yang meninggal saat mereka sedang menjalankan tugas mereka. Ada yang tertembak di medan perang saat ingin memberikan informasi keadaan di sana, dan pulang tinggal nama. Ada yang di hakimi saat mengambil fakta yang seharusnya dibela. Ada yang dimasukkan ke dalam penjara karena berbagai tuduhan pelecehan nama baik. Ada yang sampai bertahun-tahun terpisah dari keluarganya untuk merangkum suatu berita ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Itulah jasa jurnalis yang tidak begitu dirasakan banyak orang. Pertanyaan kecil, bayangkan dunia tanpa jurnalistik ! Mungkin banyak jurnalis yang nakal dengan tulisannya demi kedudukan dalam redaksi, karena di dimensi manapun akan selalu ada hitam dan putih, behati-hatilah, pena adalah senjata mematikan yang dapat menaklukan dunia sekalipun. Tulisan, sekedar goresan tinta dari ujung pena di atas secarik kertas, tapi setiap goresan apabila tidak sekedar goresan, sebuah tulisan dapat berupa ekspresi, kreativitas, imajinasi, mungkin tulisan memang hanya sekedar hitam diatas putih tapi bagi tulisan yang dibuat dengan penyampaian tersendiri, dapat lebih berwarna dari lukisan, dapat lebih bersuara dari musik, dapat hidup dan mengubah pola pikir seseorang.

Apa sebenarnya tulisan? Tulisan adalah mimpi,

Tulisan adalah harapan,tulisan adalah emosi, tulisan adalah cinta, tulisan adalah harta Banyak orang bertepuk tangan saat melihat ke depan layar tanpa menoleh ke balik layar. Tapi itulah jurnalistik yang akan selalu menjadi pahlawan di balik layar dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Cobalah untuk lebih menghargai tulisan.






Sahabat Semati

Oleh : Shelly Ila Amalia
Kelas : X IPA 4

Sebening embun di pagi hari
Serindang pohon di siang hari
Sedingin angin di malam hari
Sejernih air dari mata air
Sahabatku adalah embun
Mampu menyuburkan hatiku yang sendu
Sahabatku adalah pohon
Mampu memayungkanku dari terikanya matahari
Sahabatku adalah angin
Ada disetiap waktuku
Sahabatku adalah air
Mampu menghilangkan dahaga diri
Hari ini kudengar dari telepon yang berdering
Setega itu kau pergi dariku?
Setega itu kau memberiku duka?
Ombak yang kejam bisa mengelabuhimu

Tapi tidak untuk kenangan kita

Enjoy Batavia

Oleh : Elysa Meilani 
Kelas : X IPA 1

Batavia
Sebuah nama yang melegenda
Dalam sejarah menuai memory yang terus menggebu
Dirinya begitu manis menawan hati
Namanya mengharum mewangi bak bunga melati
Pesonanya takan pernah pudar
Namun ketika ku ingat lagi, Batavia ku dulu…
Temanku si hijau berjejer dengan bahagia bersama keluarganya
Kalau ku buka lagi kalbu pikiranku
H2O begitu gembiranya menelusuri arus
Terngiang bahwa ternyata dahulu
Tak kujumpai si penghancur itu
Berbadan besar, tinggi, berkilau, kuat dan parahnya lagi dia memakan ozonku!
Membantai si hijau! Mengambil tempat si H2O!
Apa yang akan H2O lakukan? Dia murka!
Batavia mungkin bukan tempat ku
Tetapi surga bagi sebagian orang
Oh tidak aku salah! Melainkan bagi banyak makhluk hidup
Bahkan bagi pemimpin yang berjanji akan atasi kemurkaan H2O
Sekalipun bagi masyarakat yang gemar membuang sampah dengan suka hati kemanapun dimanapun dan kapanpun
Bagi para milyarder yang selalu membangun si penghancur itu
Bagi warga yang selalu menyalahkan pemerintah
sekalipun bagi pemerintah blusukan dengan pamrih
Kini H2O tidak dapat terbendungi amarahnya! Mereka nomaden!
BYUR!!! Banjir telah tiba
Mengapa mengeluh?
Ketika para pelajar bisa libur belajar
Ketika para karyawan bisa cuti bekerja
Ketika nelayan bisa berlayar kapan saja dimana saja
Ketika bisa mandi gratis tanpa harus bayar
Ketika bisa berselancar bebas, kenapa harus pergi ke laut?
Ketika bisa berenang gratis, kenapa harus sewa kolam renang?
Ketika bisa melakukan arum jeram sekarang, kenapa harus tunggu waktu berlibur?

ENJOY BATAVIA

FAQ (Frequently Asked Question)

Apa itu "Penulis Smanda"?
Penulis Smanda adalah sesi menulis bersama dengan tema tertentu. Tujuannya jelas, yaitu untuk membangkitkan semangat menulis #smandacivil. Tulisan paling menarik dari setiap tema akan diumumkan via  @smandamagazine. 

Gimana sih cara ikutannya?
Mudah, tinggal lihat tema yang diumumkan lewat twitter @smandamagazine. Kemudian kirim tulisan kamu via email ke penulismanda@gmail.com. Nanti tulisanmu akan kami pampang di sini. Oh ya, setiap tulisan yang masuk ke redaksi akan memeroleh kesempatan yang sama untuk menjadi "Best of Session" lho. Ayo buruan, follow akun twitter kami, dan pantau tema apa yang muncul setiap minggunya! :)
*PS: Sstt, setiap 2 bulan, 2 karya terbaik akan dimuat di majalah kesayangan kita, SIM. Kapan lagi bisa nampang di majalah sekolah? Hehehe.

Panjang tulisan? Bentuk tulisan?
Gak usah ribet sama urusan format tulisan! Bebas kok kakak. Tulis aja apa yang muncul di benak kamu, yang menarik menurut kamu, dan pastinya akan menarik juga buat orang lain. Bisa nulis dengan gaya 'dear Diary', versi artikel, versi cerita pendek, versi monolog hasil kontemplasi pemikiranmu, versi kisah petualangan, puisi, surat cinta, bahkan sampai rangkuman catatan belajar pun akan kami terima. :) 

Diseleksi ga tuh tulisan yang masuk blog?
Oh, tentu enggak ada donk. Karena semangat kita adalah masturwriting, alias menulis untuk bersenang-senang dan mengekspresikan diri sekaligus menambah produktivitas dan eksistensi. Seleksi baru akan dilakukan untuk memilih tulisan mana yang akan menjadi "Best of Session" dan tulisan yang dimuat di SIM. Tapi, SANGAT DIANJURKAN #smandacivil menulis dengan tata bahasa yang rapi agar nyaman dibaca semua orang yaaa. :) 

Ada syarat khusus untuk bisa berpartisipasi?
Pastinya, harus #smandacivil donk! Boleh siswa yang masih aktif, alumni, atau guru. Selama suka menulis dan mau mengembangkan semangat masturwriting di kalangan #smandacivil, akan kami terima dengan tangan lebar setiap karyanya. Jangan lupa informasikan semangat menulis #smandacivil ini ke teman-temanmu yaaa. ;)

Harus punya blog?
Gak harus. Yang penting punya tulisan yang bisa dikirimkan ke meja redaksi. :)



#smandacivil yang masih aktif sebagai siswa wajib berpartisipasi gak sih?
Tenang, tidak berpartisipasi dalam blog ini bukan sebuah perbuatan dosa kok. #smandacivil yang masih aktif sebagai siswa enggak wajib untuk mengirimkan tulisan ke sini. Kalau kalian lebih memilih menyimpan buah tulisan kalian dalam buku diary atau menulis di tembok kamar juga enggak apa-apa. Asalkan jangan ditulis di tembok kelas ya, hihi. Tapi, kalau kalian mengirim tulisan ke sini, tentunya hasil karya kalian bisa dinikmati dan diapresiasi oleh orang lain. Yah, itung-itung menjaring fans sebelum nantinya menjadi penulis terkenal :D

Kalau #smandacivil yang ikut ekskul jurnalistik wajib gak?
Nah, khusus untuk #smandacivil yang bergabung di ekskul jurnalistik, menulis di blog ini hukumnya fardhu 'ain. Alias diwajibkan. Bukannya mau membedakan, tapi setiap tulisan #smandacivil peserta ekskul jurnalistik akan dinilai. Nilainya buat apa? Ya buat ditaro di raport donk, hehehe.

Cara Pemostingan Tulisan #smandacivil

Hallo #smandacivil....

Mohon diperhatikan prosedur mengirim post ke blog ini yaaa

1. Kirimkan tulisan kalian ke penulismanda@gmail.com dengan format :
SUBJEK: PENULIS SMANDA_[TEMA]

[Judul]
Oleh: [Nama Lengkap Penulis],
[Kelas/Angkatan] 

[Isi Tulisan]

Semuanya agar mengikuti format itu, agar rapi dan seragam format satu tulisan dengan yang lain. Ingat ya, tulisan disematkan dalam body email, BUKAN DI-ATTACH :)

2. Pastikan tanda baca dan tata bahasa. Gak ada salahnya kan untuk recheck tulisan kalian sebelum dikirim ke meja redaksi? Hehe. Gak lucu donk kalau tulisan gak bisa dibaca gara-gara tanda baca dan tata bahasa yang amburadul dan bikin gak nyaman mata pembaca :) 

3. Rajin-rajinlah bertandang ke tulisan teman-teman #smandacivil yang sudah naik blog ya. Jangan lupa mengapresiasi tulisan mereka. Cek juga tulisan kamu, siapa tahu sudah ada feedback dari #smandacivil. Setiap apresiasi dari #smandacivil akan membantu para penulis untuk menciptakan kreasi yang lebih baik, lho! Oh ya, untuk memberi komentar gak perlu punya akun kok. Berkomentar dengan Anonim juga bisa, tapi tetap sertakan nama dalam komentarmu ya.

4. Waktu mengirimkan karya-karya #smandacivil yaitu mulai dari dimulainya tema dikeluarkan s.d Hari Sabtu pukul 16.00 WIB, jadi jangan sampai telat ya ngirimin karyanya

Nah, sangat mudah kan? Cukup menuangkan ide menjadi sebuah tulisan, lalu kirim ke meja redaksi. Dan, voila! karya kalian akan dipajang di blog ini. Selain bisa dijadikan kegiatan senang-senang sambil mengisi waktu senggang dan menyalurkan bakat, tentunya tulisan kalian di blog ini akan dibaca oleh ribuan orang. Kapan lagi bisa eksis? :D 

Selamat berkarya. 
VIVA SMANDA! 




Welcome Again ...

Selamat datang, #smandacivil! Mungkin banyak dari kalian yang belum
tahu tentang penulismanda.blogspot.com. Blog ini dibuat beberapa tahun
yang lalu oleh Mas-Mba kami dengan tujuan menjadi wadah karya tulisan
seluruh
#smandacivil. Bukan hanya pengurus atau anggota ekskul
jurnalistik tetapi seluruh warga smanda dapat mengirimkan karyanya
sehingga dapat dinikmati juga oleh teman-teman. Memang
penulismanda.blogspot.com sempat vakum dalam waktu yang lumayan lama,
namun kini kami
kembali mengaktifkannya. Teman-teman
bisa membaca tulisan-tulisan dari Mas dan Mba beberapa tahun yang lalu
disini, tulisan-tulisan dari penulis smanda yang mungkin akan
memotivasi teman-teman untuk aktif menyumbangkan karyanya disini.

Kami menunggu karya dari teman-teman, jangan takut untuk menulis,
jangan takut untuk berkarya. Selamat
berkarya #smandacivil...


VIVA SMANDA!