Sabtu, 16 Juli 2011

Kelas Ujung Lorong

oleh Intan Widya Anugrah

Kelas ujung lorong, ya itulah kelas kami ketika kami masih duduk di kelas X. Tempat yang jarang orang lewati kecuali mereka memiliki kepentingan dengan kami. X.7 nama kelasnya, di sebelah kelasku, terdapat satu kelas yang harus kami lewati setiap kali kami ingin keluar dari lingkungan kelas. Maklum kelas kami di ujung lorong atas gedung sekolah kami SMAN 2 Cirebon. Sederhana, tapi nyaman untuk kami, kami seperti memiliki wilayah kami sendiri, tidak perlu berpikir akan menggangu kelas lain yang akan melewati kelas kami.
Kelas ujung lorong mungkin sangat disesalkan untuk kami ketika kami mengikuti berbagai kegiatan di Smanda, yang mewajibkan kecapatan, dan kedisiplinan. Kami sulit untuk sampai tiba tepat waktu karena kami harus melewati anak tangga yang cukup banyak. Tapi kami tetap cinta kelas kami.
Kelas ujung lorong, selalu mendapatkan angin yang segar. Kami hanya tinggal keluar kelas dan menikmatinya kapanpun kami mau, kecuali ketika jam pelajaran. Sulit untuk di menikamti kelas kami ini, kecuali dalam masalah tertinggal informasi.
Kelas ujung lorong. Tempat dimana temanku setiap pagi menanti para mas-mas yang datang. Kami hanya bisa tertawa.
Kelas ujung lorong, hati kami masih di sana, walau kami harus mencintai kelas yang baru.

Ini Bukan Hanya Kelas, Ini Kelas Kami

Desy Istiyanti.N.S
@desydesy


Pertama kali memasuki ruangan pojok yang sangat dekat dengan gerbang membuatku ragu, hanya itu yang berputar-putar di isi kepalaku. Tersontak dengan wajah-wajah yang masih asing bagiku, awalnya aku hanya dekat dengan Ayunda. Maklum, kami dari SMP yang sama dan kami duduk sebangku pula sejak SMP kelas 9. Melihat sekeliling, hanya beberapa sosok yang ku kenal.
Waktu terus berjalan hingga kami merasakan eratnya pertemanan dalam kelas ini. Suatu ruangan yang terbilang cukup besar untuk 30 orang. Tanpa pendingin ruangan dan naasnya lagi jendela besar yang biasanya membuat rasa kantuk datang itu diubah menjadi celah-celah kecil di dekat dinding atas sana. Tanpa itu semua kami tetap bisa hidup (maaf lebay) seperti lingkaran yang berputar sebagaimana porosnya, itupun terjadi pada waktu yang menunjukkan kebersamaan singkat selama kurang lebih 1 tahun ini.
Kini, ketika kami sudah sangat dekat kami harus dipisahkan untuk kebaikan kami pula. Setiap individu pasti memiliki cita-cita dan setiap dari kami tentunya mempunyai berbagai cara untuk mendapatkan cita-cita tersebut terjadi dimasa datang.
Kata "banyak" sepertinya kurang untuk menyebutkan begitu banyaknya cerita dalam kelas kami ini. Dimulai dari kisah bingungnya setiap orang karena belum banyak yang dikenal, kisah perkenalan yang menjadikan ciri khas seseorang, kisah persahabatan yang mempunyai banyak filosofi tersendiri, hingga kisah cinta yang membuat hati melayang jauh ke angan telah terjadi di kelas kami ini.
Jadi, ini bukan hanya kelas, tapi ini adalah kelas kami. Kelas dimana kita bersama, menjalani berbagai rintangan dan kebahagiaan yang datang silih berganti.

Aku, Mereka dan Kelasku

oleh Nia Priscilla


Terlihat buku-buku tertata rapih di raknya masing-masing. Mulai dari buku pelajaran, novel, komik, biografi dan buku-buku lainnya. Aku menelusuri rak-rak buku yang ada di sana dan mulai mencari novel yang ingin kubeli. Saat ini, aku berada di Gramedia bersama teman-teman. Aku, Bella dan Desy menghabiskan waktu liburan kami dengan hunting buku dan makanan. Hm… rasanya nikmat sekali. Membaca buku dan suka makan adalah hobi kami. Mungkin, dari hobi kami itulah yang membuat kami menjadi dekat seperti sekarang ini. Aku kembali mencari  novel yang ingin sekali kubeli. Cukup lama aku mencari novel tersebut dan akhirnya aku menemukanya. Novel itu berjudul “Separuh Bintang”. Aku sangat tertarik dengan novel ini sejak membaca sinopsisnya, terutama dengan kata-kata ini “Cinta tidak membutuhkan alasan, jika alasan itu hilang cinta itu akan hilang bersamanya”. “Bagus banget!” kata-kata itu yang paling kusuka.

Setelah itu, aku mencari teman-temanku yang sedang sibuk mencari buku-buku kesukaan mereka. Seperti Bella yang suka buku-buku tentang sejarah, Desy yang suka sekali dengan buku-buku tentang psikologi dan aku yang suka buku-buku tentang teknologi dan juga novel. Mataku melihat sekeliling. Tiba-tiba bola mataku berhenti sesaat. Ada seseorang yang tersenyum padaku. Dia bukan orang yang sedang kucari saat ini tetapi wajahnya, juga tidak asing lagi bagiku. Aku melihat sekeliling lagi, barangkali dia tersenyum pada orang lain. Sepi. Saat ini tidak begitu banyak orang yang ada di tempat ini. Mungkin benar dia tersenyum padaku, bukan orang lain. Aku pun membalas senyuman itu dengan penuh kebingungan.

**

Saat ini, semangkok bakso ada di depan mata. Ini adalah makanan favoritku. Biasanya, aku langsung melahap makanan yang satu ini tanpa basa basi lagi, tapi untuk saat ini rasanya tidak ada hasrat untuk memakannya.

“Ra, tumben lo ga makan tuh bakso?” tanya Desy dengan muka bingung.

“Iya ra, tumben banget. Itukan makanan kesukaan kamu? Ada masalah ya?” tanya Bella dengan suaranya yang lembut. Bella adalah sahabatku yang paling kalem dan mempunyai suara selembut kain sutra. Membuat orang tenang ketika mendengar suaranya.

“Gue gapapa kok.” Jawabku dengan nada yang sedikit ketus.

“Ga mungkin. Ga biasanya lo kaya gini. Cerita aja deh, barangkali kita bisa bantu lo.” Terdengar suara Desy yang sudah penasaran.

“Hm…gue. Gue lagi kesel. Selalu aja kaya gini. Gue benci keadaan gue sekarang. Ga pernah mereka ngertiin gue. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Yang mereka pikirin di dunia ini cuma uang,uang dan uang. Ga pernah mikirin gue. Anaknya sendiri!” Jawabku dengan rasa kesal yang menggebu-gebu.

“Hey ra, setauku ini bukan kamu. Kamu selalu sabar ngehadapin semua ini. Tapi, kenapa sekarang kamu jadi lemah? Ini bukan kamu, Ra…..” Suara bella membuatku ingin mengeluarkan air mata yang selalu aku tahan selama ini. Aku pun juga tidak mungkin menangis di tempat yang ramai seperti ini. Ya..hari ini, kantin sekolah cukup ramai.

“Tapi, gue udah ngga kuat bel. Udah cukup rasanya gue ngalamin semua ini. Merasa terbuang, terasingkan di rumah gue sendiri. Mereka ngga ngenggep gue anak!!” Aku pun mulai menjatuhkan air mata sedikit demi sedikit. Apa benar ini Rara? Rara yang kukenal tidak pernah serapuh ini.

“Huss! Jaga omongan lo, Ra! Mereka itu orang tua lo! Jangan negatif thinking deh, coba ambil postifnya. Sekarang lo bisa sekolah di sekolah favorit, lo bisa beli barang-barang semau lo, lo bisa punya semua yang lo pengen!” Suara Desy terdengar agak meninggi.

“Gue….gue, ga butuh itu semua! Gue ga butuh harta yang melimpah, gue ga butuh barang-barang mewah. Gue cuma butuh mereka yang sayang sama gue kaya dulu. Gue…” suara tangisku mulai tidak terkendali. “Gue cuma pengen punya keluarga kecil bahagia, sama seperti temen-temen yang lain. Cuma itu mau gue.”

**

Aku sudah kembali seperti aku yang biasa. Tenang dan cuek. Aku sudah melupakan kejadian di kantin tadi, yang membuat seluruh isi kantin melihatku dengan terheran-heran. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Saat ini aku sedikit lega. Sahabatkulah yang selalu menenangkanku. Aku sayang sekali dengan mereka. Aku sudah menggangap mereka keluargaku sendiri. Mereka selalu menemaniku disaat senang atau sedih, tidak seperti keluargaku sendiri. Yang bertingkah tidak seperti keluarga.

Hari ini adalah hari ke 30, tepatnya 1 bulan aku sudah bersekolah di sekolah yang baru dan kelas yang baru juga. X6 adalah kelasku saat ini. Sangat nyaman sekali berada di kelas ini. Kelasnya memang tidak begitu besar dan juga tidak begitu kecil. Sangat sederhana. Hanya saja ada sedikit hiasan untuk meramaikan kelas ini. Seperti boneka-boneka, miniatur menara Eiffel, dan masih ada beberapa hasil karya seni anak-anak X6. Aku juga sangat suka dengan penghuni kelas ini. Sangat baik, ramah, pintar, suka menolong dan rasa kekeluarganya sangatlah erat. Itu yang paling aku suka. Tetapi, ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran ketika sudah berada di kelas. Ada salah satu murid yang menurutku misterius dan selalu membuat aku ingin mengenalnya lebih lagi. Namanya Raka. Secara fisik, tidak ada yang “wah” darinya, hanya saja dia mempunyai wajah yang cukup manis. Sifatnya pun juga tidak ada yang unik. Dia terbilang anak yang kalem di kelas, sampai-sampai bella kalah kalemnya dengan Raka. Tetapi dia anak yang berprestasi, dia juga masuk sekolah ini melalui beasiswa. Sangat hebat menurutku. Tenyata masih ada anak zaman sekarang yang bisa berprestasi seperti dia, yang bisa masuk sekolah paling favorit di kota ini dan juga sangat aktif di berbagai kegiatan sekolah dan juga eskul. Kenapa aku bilang dia misterius? Ya…dia anak yang berprestasi di sekolah, dia anak yang pendiam dan satu lagi, dia selalu pulang sekolah tepat waktu. Tidak seperti teman-temanku dan juga aku yang sehabis pulang sekolah entah itu pergi bermain, kerja kelompok, mengerjakan tugas di sekolah, atau yang lainnya. Dia selalu pulang tepat waktu dan selalu terlihat buru-buru ketika bel pulang sekolah berbunyi. Entah kenapa, aku ingin sekali bisa lebih mengenal dia. Sampai saat ini pun aku dan dia jarang bicara, jarang mengobrol walaupun kita satu kelas. Tapi satu yang kuingat sampai saat ini, dia tersenyum sangat ramah padaku saat pertama kali aku masuk kelas ini.

**

“Huff…..capek sekali hari ini.” Aku duduk di bangku kantin dengan cepat dan nafas yang masih terengah-engah. Sekarang waktunya istirahat pertama. Kelasku baru saja menyelesaikan mata pelajaran olahraga. Olahraga hari ini yaitu; lari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali, push up 25 kali untuk cewek dan 50 kali untuk cowok, sit up 25 kali dan skipping sebanyak 100 kali. HAH! Sangat menyiksa bukan?! Guru olahragaku memang lumayan killer. Beliau sangat displin dan tegas. Tidak ada seorang murid pun yang berani bolos pelajaran beliau.

“Iya, Ra. Pak Wirto nggak kira-kira nih. Capeknya bukan main.” Jawab Bella dengan nada kesal.

“Hahahahahaha, makanya dong kaya gue. Udah makanan sehari-hari kaya gini mah. Kecil.” Desy menjentikkan tangannya dengan rasa percaya diri yang tinggi. Desy adalah atlet basket di sekolah jadi tidak heran dia bisa dengan gampang melakukan “penyiksaan” tadi.

“Wuuuu.” Dengan wajah jail aku dan Bella bebarengan menyorakin Desy.

“Hehehehe, eh hari ini mau jalan ga? Katanya di Gramed ada diskon 15% loh, lumayan kan? Nah..pulangnya kita cari makan yang enak. Gue lagi ngidam mie ayam nih.” Tanya Desy dengan wajah yang sumringah. Kalau soal diskon dan shopping jangan tanya deh, dia itu rajanya shopping kalau ada barang-barang diskonan.

“Okeeee deh, siap bos.” Jawabku dengan lantang. Lagi pula sudah lama kami tidak pergi hunting buku semenjak liburan kemarin.

**
KRINGGGG…….KRINGGGG….

Bel pulang sekolah berbunyi. Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas yang masih berserakan di meja. Tiba-tiba, aku menghentikan sejenak kegiatanku saat ini. Mataku tertuju pada gerakan berjalan yang cepat, siapa lagi kalau bukan Raka? Dia selalu terburu-buru saat pulang sekolah. Tapi kali ini……dia terlihat sangat buru-buru. Ada apa?

**

“Gimana? Dapet bukunya ga, Ra?” Suara Bella mengagetkanku yang sedang serius mencari  buku kumpulan soal kimia. Aku mempunyai inisiatif membeli kumpulan soal kimia karena mengingat mata pelajaran itu yang paling aku tidak bisa kuasai. Aku selalu mendapat nilai do re mi fa sol di mata pelajaran ini. Payah.

“Belum nih Bel. Dimana ya bukunya? Adanya juga kumpulan soal Fisika, kimianya ngga ada.” Jawabku dengan suara setengah pasrah.

“Coba aja tanya mas-masnya deh. Minta dicariin bukunya.” Jawab Bella dengan yakin.

Bener juga. Ngapain repot-repot nyari sendiri? Toh ada mba mas yang jaga. Dengan cepat aku mencari mas atau mba yang jaga.

Tak lama kemudian.

“Mas kalau bu…........” tiba-tiba mulutku terasa kaku. Seperti es yang Sangat sulit untuk menggerakkannya.
“Ra…..raka?! Ngapain kamu ada di sini?” Jawabku sedikit gagap karena masih kaget dengan kejadian yang saat ini aku alami.

Kini, di depanku ada seorang laki-laki yang seumuran denganku. Kemeja putih polos itu mengutupi kulit coklatnya. Terlihat juga sebuah name tag bertuliskan “Raka Anggara” menggantung di dekat kantong kemejanya.

“Hi Rara! Ada yang bisa saya bantu?” Jawab Raka dengan sangat sopan layaknya pekerja profesional.

“A….anu….eh…ini aku cari buku kumpulan soal kimia tapi adanya fisika.”

“Oh, tunggu sebentar ya, Ra. Aku carikan dulu.” Raka mulai berjalan menjauhi Rara yang sekarang masih diam terpaku.

Tak lama kemudian, Raka kembali dengan membawa buku berwarna kuning yang bertuliskan “1000 soal Kimia SMA”.

“Ini, Ra.” Raka menjulurkan tangannya dan memberikan buku tersebut dengan senyuman yang sangat ramah. Senyuman Raka. Senyuman yang sangat khas. Terlihat manis dan sangat cool.

“Eh iya, makasih ya Raka.” Jawab Rara sambil menjulurkan tangannya.

“Sama-sama, Ra. Aku balik kerja lagi ya.” Raka membalikkan badannya dan tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang memegang tangannya. “Ka, hm…..boleh nanya ngga?”

“Nanya apa, Ra?” Jawab Raka yang mukanya mulai terlihat bingung.

“Hm….kok kamu bisa kerja di sini?” Tanya Rara dengan sedikit tidak enak hati.

“Oh soal itu…..Besok aku ceritain kok ra.” Raka mulai melangkah menjauhi Rara, tapi tak lama kemudian “Aku janji” Raka membisikkan Rara dengan lembut. Nafas Raka pun terasa dan Rara lagi,lagi diam membeku seperti patung. “Ini Raka yang ku kenal?” batinku berkata. Raka yang saat ini terasa sangat dekat, tidak seperti di kelas, yang cukup dingin dan tidak pernah mengajak bicara Rara. Membingungkan.

**

Deg-degan. Keringat dingin mulai bercucuran di seluruh tubuhku. Entah kenapa rasanya seperti ingin bertemu sesorang yang paling aku takutkan sedunia. Ya…istirahat pertama aku sudah punya janji bertemu dengan seseorang di dekat perpustakaan sekolah. Siapa lagi kalau bukan Raka? Kemarin, dia berjanji ingin memberitahukanku alasan dia bekerja sebagai pegawai di Gramedia. Dari kejauhan terlihat sosok laki-laki yang tidak begitu tinggi, tapi cukup proposional. Warna kulitnya yang kecoklatan pun sudah terlihat karena sinar matahari yang sangat terik saat ini. Sosok itu pun mulai mendekat. Raka datang dan langsung  duduk di sebelahku.

“Hi Rara.” Suara lembut Raka mencairkan suasana yang sedikit tegang.

“Hi, Raka.” Suaraku terdengar sedikit gagap. Dan aku masih belum berani menatap mata Raka. 

“Jangan tegang gitung dong, santai aja hehe. Oh ya jadi mau denger ceritaku ngga?” Tanya Raka dengan nada yang sedikit jail.

“Mau dong. Ngapain aku ke sini kalau ga mau denger cerita kamu? Hehe.” Akhirnya, aku bisa juga terlihat sedikit santai di depan Raka.

“Aku memang bekerja di sana,Ra. Di sana tempat manggangku. Aku senang kok bisa bekerja di sana, bekerja sambil belajar. Bisa baca buku sesuka hati hehe. Sepulang sekolah aku langsung bekerja sampai jam 9 malam. Makannya aku selalu terburu-buru kalau pulang sekolah, takut telat.” Suara Raka yang selalu terdengar lembut dan cool itu, kali ini berbicara cukup panjang. Biasanya, dia bicara ke Rara seperlunya saja. Baru kali ini dia bicara cukup panjang dan sangat friendly.

“Kenapa kamu mau bekerja? Hm…setau aku kamu punya keluarga yang bercukupan.”

Kali ini Raka tidak langsung menjawab pertanyaan Rara. Dia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. “Oh, soal itu.” Suara Raka berubah menjadi tak bersahabat.

“Ma..maaf Raka, aku ga maksud……” Omonganku tiba-tiba terpotong karena Raka dengan secepat kilat memotong pembicaraanku.

“Enggak papa kok, Ra hehe. Soal itu ya?” Suara Raka sedikit tidak terdengar. “Memangnya ada apa? Seburuk itukah alasannya?” batinku kembali bicara.

“Ra, keluargaku ngga kaya dulu lagi. Dulu keluargaku memang bercukupan tapi sekarang sudah berubah 180 derajat semenjak papah pergi begitu aja. Dia, dia selingkuh dengan perempuan lain dan sekarang aku ikut mamahku. Kondisi mamahku juga sekarang lagi nggak sehat. Jantungnya melemah. Makannya kemarin aku buru-buru banget pulang soalnya dapet kabar kalau kondisi mahah lagi ngedrop. Aku anak pertama dari dua bersaudara dan aku anak laki-laki jadi…aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Ya, singkat ceritanya gitu, Ra hehe.” Lagi, lagi Raka melempar senyuman khasnya padaku. Ini Raka? Raka Anggara yang aku kenal? Teman kelasku sendiri? Kenapa aku ngga tahu tentang dia? Apa aku kurang peduli sama teman-temanku sendiri? Atau Raka memang pintar menutupi masalah seberat ini?

“Ka, memang aku ngga deket sama kamu. Tapi jujur. Aku selalu merhatiin kamu. Kamu itu tercatat dalam daftarku orang yang misterius. Kamu pintar, kamu berprestasi, kamu pendiam, dan kamu selalu terburu-buru ketika pulang sekolah, aku ngga tau pasti kamu seperti apa. Padahal kamu itu temen kelasku, harusnya aku lebih bisa berbaur dan mengenal teman-teman dan juga….kamu. Maaf Raka.” Hah? Ngomong apa aku?! Segampang ini menyalurkan semua pikiran yang ada di otakku? Bodoh,Ra!

“Ra, tau ngga? Kamu itu bukan hanya teman sekelasku di sekolah ini. Kamu juga temen kecilku.” Wajah Raku berubah kemerahan. Suasana pun semakin menegang.

“Hah? Teman kecil? Maksud kamu apa?” Bingung. Semua ini membuatku pusing. Teman kecil? Apa maksudnya? Benar-benar rumit.

“Hm…iya, aku temen kecil kamu, Ra. Dulu kita se-SD. Aku tahu kamu dari kelas 2 SD. Kamu pasti ngga tau aku, kita juga ngga pernah sekelas tapi, aku selalu memperhatikan kamu. Kamu adalah anak yang populer ketika itu, cantik,pintar dan baik. Jadi…aku ngga punya cukup keberanian buat ngedeketin kamu.” Muka Raka sangat memerah.

“Bener deh, aku masih ngga percaya.” Seluruh tubuh Rara lemas seketika.

“Iya, Ra. Aku anak yang ngga suka keluar kelas jadi kamu jarang liat aku. Kamu SD Merdeka 2 kan? Oh ya, kamu tahu ngga? Waktu liburan kemarin, aku seneng bisa liat kamu lagi. Setelah lulus SD kita belum pernah ketemu. Dan kita bisa satu sekolah, satu kelas malah.” Jawab Raka yang penuh semangat.

“Hah? Liburan? Kapan kita ketemu?” Aku semakin bingung.

“Kamu lupa ya? Waktu liburan kemarin, kamu ke sini. Aku liat kamu sama 3 temen kamu. Aku senyum ke kamu kok, kamu juga ngebales cuma…kaya ngga ikhlas hehehehe.” Suara jail Raka muncul kembali.

“Bukannya ga ikhlas, aku kan ngga kenal kamu masa tiba-tiba aku senyum ke orang yang ngga ku kenal. Ntar kegeeran lagi hehehe.” Suasana yang tegang tadi sudah sirna. Sekarang, aku merasa lebih dekat dengan Raka. Keinginanku juga terkabul, aku bisa lebih mengenal Raka. Raka Anggara teman kecilku.

**

Aku menjatuhkan diriku ke kasur dengan kasar. Rasanya hari ini melelahkan. Bukan lelah karena fisik, tapi lelah untuk berfikir dan menebak-nebak. Aku bermanja ria di kasur. Ini saat-saat yang paling menyenangkan. Bersantai dan tidak ada satupun yang menggangu. Orang tuaku seperti biasa sibuk dengan urusan kerjanya. Mereka sedang pergi ke Surabaya untuk 3 hari. Mbok min pun sedang pulang ke kampung, katanya anaknya sakit jadi harus pulang. Di rumah hanya tersisa pak Joni, satpam rumah. Aku anak tunggal jadi tidak ada teman di rumah yang bisa diajak ngobrol, lebih tepatnya berantem.

Foto itu. Foto aku, ibu dan ayah. Terlihat sangat bahagia. Foto itu terletak di meja belajarku. Tak sengaja aku melihat foto itu dan aku ingin sekali flashback. Ya…andai saja bisa mengulang waktu. Tiba-tiba aku jadi teringat Raka, dia masih bisa tersenyum, tertawa, berprestasi ketika keadaan dia yang harus menanggung beban berat. Dia masih bisa bersyukur dengan keadaan dia yang sekarang. Sedangkan aku?
Di sebelah foto itu terdapat kalender. Pada tanggal 28 Agustus, terdapat lingkaran yang cukup besar dengan warna merah dan ada tulisan “Happy Birthday Rara!” aku menaruh telapak tanganku ke jidat. Besok? Besok aku ulang tahun. Kenapa bisa lupa? Mungkin karena akhir-akhir ini banyak sekali tugas dan ulangan dan juga…masalah itu. “Besok bukanlah hari yang istimewa. Pasti.” Terlintaslah kata-kata itu di benakku. Tidak ada yang terlalu istimewa seperti tahun-tahun yang lalu, hanya surprise dari teman-teman dan….tak ada ucapan dari orang tuaku.

**

Jam menunjukkan pukul 05.10. Tumben sekali aku bangun pagi. Cuaca pagi ini juga bersahabat. Angin yang sepoi-sepoi masuk dari jendela kamar. Aku mencari-cari handphoneku. Barangkali saja ada sms masuk dari Bella atau Desy yang ngucapin selamat ulang tahun. “HAH?!” Aku terlonjak dari tempat tidurku. “Ibu? Ayah? Sejak kapan mereka ingat ulang tahunku?” Di layar handphone terdapat 4 pesan masuk. Dari Bella, Desy, Raka dan….ayah,ibu.

SMS itu berisi “Selamat Ulang tahun Rara. Jadi anak yang pinter, baik, patuh dengan orang tua dan menjadi anak kebanggaan ayah dan ibu. Ibu dan ayah akan selalu sayang sama kamu. Maaf kalau ibu dan ayah tidak bisa di rumah, kami harus menyelesaikan pekerjaan kami di Surabaya. Tapi yang perlu Rara tau, kami akan selalu sayang sama Rara. PS: Ibu sama ayah sudah mempersiapkan kado di meja belajar kamu. Di buka ya, Ra. Semoga kamu suka.”

Kado? Aku langsung menuju ke meja belajarku. Sungguh sulit dipercaya. Ibu dan ayah memberikan aku kado?  Perlahan-lahan aku membuka bungkus kado yang berwarna hijau toska itu. Hijau toska adalah warna kesukaanku. Dalam bungkusan itu terdapat buku-buku dan beberapa novel yang aku pengen. Dan juga ada sebuah album foto yang isinya foto-foto aku ketika kecil sampai remaja saat ini. Demi Tuhan. Sulit dipercaya. Mereka masih peduli. Seharusnya aku selalu bersyukur. Aku  masih punya orang tua yang sangat sayang sama aku, walaupun mereka super sibuk. Harusnya aku mengerti keadaan mereka, bukan terus menerus aku ingin dimengerti sama mereka. Aku banyak belajar dari Raka, teman kecilku. Dia mengajarku untuk bersyukur dan untuk selalu menyayangi. Ya...bagaimanapun juga mereka orang tuaku. Keluargaku. Terimakasih Raka. Terimakasih kelasku. Kamu telah  mempertemukan aku dan teman kecilku. 


Kelas Lama

oleh Aulia Meytriasari Firmundia
@auliaw

Sosok itu terus mondar-mandir di depan papan pengumuman. Melihatnya mungkin orang-orang akan sedikit bingung, sebenarnya apa yang dia lakukan. Dengan seragam yang rapi, rambut dicepak dan tas selempang warna birunya, dia tetap mondar-mandir. Seperti menunggu sesuatu, tapi tak ada yang tahu apa yang ditunggunya.
                “Kamu nunggu pengumuman? Kan sudah ada? Kenapa terus mondar-mandir?”
                Sosok itu hanya tersenyum kecil sambil menggeleng. Diseragamnya tertempel papan nama bertuliskan ‘Harun A. S’. Mungkin anak baru, pikir anak-anak yang tengah berseliweran depan papan pengumuman. Karena daritadi dia sendirian, tanpa teman. Tapi anak baru itu sudah memakai seragam yang sama dengan mereka, bahkan terlihat agak lusuh.
                Adanya Harun yang terus mondar-mandir membuat anak-anak penasaran dia siapa. Siapapun yang mengajaknya bicara hanya dibalas senyuman, anggukan atau hanya gelengan kecil. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir anak baru itu.  
                Sesekali matanya memandang kearah gedung yang tengah dibangun. Gedung itu dirombak total untuk beberapa kelas baru di tahun ajaran mendatang. Tadinya gedung itu adalah kelas-kelas biasa yang sudah tidak pernah direnovasi selama sekolah ini berdirir. Entah kenapa gedung itu begitu membuat Harun tertarik. Beberapa kali dia menggumam, “Itu kelasku.”
                Harun memang tidak mengganggu, tapi dia benar-benar membuat penasaran.
                “Kamu anak baru?”
                Dia hanya tersenyum.
                “Oh anak sini, ya? Kelas berapa?”
                Dia mengangguk kecil.
                Si penanya mulai mengerutkan dahi, lalu menatap Harun lekat-lekat, “Dapat kelas apa?”
                Harun tetap diam, tapi tatapannya menghadap gedung yang tengah dibangun itu.

*
Aku tidak mengganggu, kok.
                Sudah seharian aku mondar-mandir di depan papan pengumuman, membuat orang-orang kebingungan, tapi aku tetap saja tidak menemukan jawaban.
                Mereka seharusnya mengenal aku, andai saja waktu tidak berjalan begitu cepat.
                Satu minggu lagi tahun ajaran baru dimulai, tapi tetap saja aku tidak menemukan kelasku. Apa aku sudah benar-benar begitu dilupakan oleh mereka sehingga namaku tak tertera didaftar kelas itu? Aku merasa kesal, apalagi dengan seenaknya mereka merombak kelas yang sudah aku anggap sebagai rumah kedua. Rasa-rasanya tidak adil. Gedung itu sekarang memang terlihat mewah, tapi tetap saja tidak mengundang rasa ingin kembali keruangannya.
                Aku tidak akan berhenti mencari, mungkin namaku terselip disana.
*
“Harun?”
                “Iya namanya Harun. Bapak tau?”
                Bapak itu mengerutkan alisnya yang sudah mulai berubah warna. Lalu bertanya dengan intonasi bingung, “Kamu lihat dimana? Tau darimana namanya Harun?”
                “Seminggu yang lalu, Pak. Waktu pengumuman pembagian kelas. Saya lihat dia mondar-mandir depan papan pengumuman. Yang lihat dia juga bukan saya aja, Pak. Saya kira dia anak baru, tapi katanya bukan,”
                “Anak kelas mana dia?”
                “Waktu ditanya dia enggak jawab sama sekali, Pak. Cuman senyum, geleng-geleng. Tapi dia ngeliatin gedung baru terus. Sepertinya kelasnya disana,”
                Bapak itu semakin mengerutkan keningnya.
                “Kayak yang cari-cari apa gitu, Pak… Kayak menunggu sesuatu.”
                “Duh, Nak… Bapak jadi takut,”
                “Loh, kenapa, Pak?”
                Bapak itu mengurut-ngurut keningnya lalu membuka mulutnya, masih dengan ekspresi bingung yang sama, “Karena pembangunan gedung baru itu… takut ada yang marah.”
                “Marah? Siapa, Pak?”
                “Ya itu… macam Harun.”
                “Hah?”
*
Ini kelasku.
                Tempatku menimba ilmu dengan giat, sampai akhirnya aku harus meninggalkan ruangan ini untuk selama-lamanya. Aku ingat bagaimana rasanya penyakit itu merembet ketubuhku, menghancurkan sistem otakku dengan cepat, dan aku terkapar begitu saja diruangan ini. Aku telah menggegerkan seisi sekolah.
                Memang sudah bertahun-tahun lamanya, tapi aku masih suka berada disini. Sedikit apek dan gelap, tapi tempat ini begitu menyenangkan. Sampai akhirnya benda-benda besar itu menghancurkan setiap sisi dari ruangan ini. Gedung ini hancur begitu saja. Selamat untuk anak-anak baru, kelas kalian baru.
                Tapi aku tidak suka.
                Aku mondar-mandir seharian saat pengumuman itu datang. Aku berharap namaku ada disalah satu daftar kelas, lalu orangtuaku datang untuk daftar ulang. Tapi aku hanya bisa berharap, kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu lamanya itu tidak akan terulang. Aku membiarkan diriku terlihat, tapi aku tak membiarkan kelasku hilang begitu saja.
                Mungkin sedikit gertakan akan membuat gedung-gedung itu kembali seperti semula.

Jumat, 15 Juli 2011

Kelasku X6

Rizky Putri Dayanti

Cerita kali ini mungkin kebanyakan menceritakan sifat anak-anak dikelas.  Kelasku X6 ini kelas yang paling supeeeeeeeeeeeeeer asik. Saya tidak menyangka mendapatkan kelas yang asik,kompak,konyol dan rajin. Selain itu juga kita mendapatkan walikelas yang asik bisa mengerti dengan anak-anakya, sedangkan guru bpnya juga tidak kalah asik...walaupun dia memberi saran kekami itu sangat menusuk ke hati tapi membuat kami berubah dari sifat jiwa keanak-anakan kami ini. Kalo dilihat muka anak-anak X6, muka yang sangat wibawa,tegas dan alim. Sangatlah berbeda dengan asli atau kedok mereka jikalau berada didalam kelas. Tetapi kelas kami sangatlah aktif dalam organisasi dikelas.

Saya akan menceritakan wajah mereka berubah drastis dari masuk kelas hingga keluar kelas dan ejekan mereka didalam kelas. Dimulai dari :
1.     Ketua kelas kami ini, dia bernama Auliaji Purnomo atau dipanggil aji atau bolongan hidung besar. Dia sangat wibawa jika sedang memegang jabatannya tetapi jika tidak memegang jabatannya atau sedang bercanda dia orang yang paling aneh saya temui di kelas X6.
2.    Ketua basket angkatan kami, dia bernama Rizal Firdaus atau dipanggil ijal atau dobleh. Diluar kelas mukanya sangat cool,jutek,cuek tapi kenyataannya tidak beda jauh dengan aji.
3.    Risna eka safitri atau dipanggil pipit atau pesek. Dia teman sebangku-ku yang paling pasrah jikalau dikerjainan oleh anak-anak kelas tapi kalau diluar kelas pasti melihat dia jutek banget
Banyak banget teman muka saya yang sangat jaim diluar kelas, mereka yang  diatas adalah muka yang sangat drastis berubah didalam kelas. Kelas X6 juga mempunyai predikat kelas mempunyai nilai tertinggi dari kelas X1 sampai X10, kita mendaptkan ranking ke 3.

Berharap kelas XI IPA 7 seasik dari kelas X6 ini. Walaupun kami semua telah berpisah kelas tapi tetap kompak diluar kelas. Tidak ada yang berubah saat awal kita bertemu hingga kita berpisah kelas. Mereka tetap rendah hati tidak ada yang sombong.

Kelas Pertamaku

Risna Eka Safitri

Nggak punya temen. Itu yang saya rasakan ketika pertama kalinya. Saya melihat seisi kelas, saya mencari anak-anak yang memakai lambang sekolah SMP yang sama seperti saya, awalnya cuma Ijal yang saya kenal dan saya lihat di kelas tersebut, dan itupun sudah sangat bersyukur. Sangat. Tepat di bangku kedua dan baris kedua dari kanan saya mendapatkan tempat duduk di kelas pinggir gerbang ini. (Alhamdulillah… nggak belakang-belakang amat gitu. Alamat ngobrol aja kalo di belakang). Saya duduk bersama Dwita, dia adalah teman sewaktu saya SMP. Walaupun belum terlalu akrab-akrab banget tapi saya akan mencoba untuk akrab dengan dia.

Pendiam. Itu adalah pendapat saya pertama kalinya melihat kelas ini. Beda banget sama kelakuan saya yang begini adanya, saya takut nanti yang ada cuma saya sendiri yang terlihat begitu dikelas ini. Hari demi hari saya lewati bersama anak-anak kelas tersebut. Dan ketika sampai saat itu ada entah keajaiban apa, angin topan dari mana, hujan durian dari kapan, yang memindahkan sahabat dekat saya yang dari kelas lain masuk ke kelas saya. Kipu namanya. Nama aslinya Rizki Putri Dayanti, tapi berhubung kalau manggil Rizki nanti Rizki-Rizki yang lainnya nengok, manggil Putri pun juga begitu, kalo manggil Dayanti? Dikira Yantinya si Anang nanti (......#krik), akhirnya dengan kesepakatan oleh dia sendiri, kami semua memanggil dia Kipu. Saya memutuskan untuk duduk bersama Kipu saja dibelakang, (……..akhirnya dibelakang juga).

Setelah saya bisa adaptasi dengan kelas itu, saya mencabut semua pendapat saya tentang kelas ini yang terlihat pendiam. Memang sih pendiam, tapi kalau dilihat dari kulitnya saja. Lain cerita kalau sudah di kelas. Tidak perlu ditanya bagaimana, saya pun sudah angkat tangan duluan untuk menceritakannya. Tiada hari tanpa tertawa sama anak-anak tersebut, apalagi dengan adanya si KM kelas tersebut. Aulia Aji Purnomo, biasa dipanggil Aji. Awalnya, saya melihat Aji anaknya pendiam, alim, dan jutek, tapi sebenarnya kebalikannya, dia anaknya sangat bertanggung jawab, dan dia yang sering membuat isi kelas onar dikarenakan senda guraunya. Apalagi bagi saya, saya adalah korban yang paling sering teraniaya olehnya dan anak-anak lain.

Hampir semua anak kelas tersebut yang jika dilihat dari kulitnya berbeda dengan aslinya. Terlalu banyak dan tidak akan pernah habis untuk menceritakannya satu-satu. Intinya, mereka semua sama. Tetapi, setidaknya dari pengalaman pertama saya tentang kelas di sekolah ini saya mengambil kesimpulan, tak kenal maka tak sayang & jangan pernah memandang orang dari sisi luarnya terlebih dahulu, belum tentu luar itu sama seperti apa yang ada didalamya

Arti Sahabat

Shafira Marliana

Mencari teman bermain mungkin memang mudah, tapi jika kita ingin mencari sahabat yang sejati tentu butuh perjuangan yang cukup sulit untuk sebagian orang. Mengapa? Mungkin, alasan setiap orang berbeda-beda jika ditanya tentang pertanyaan tadi. Terkadang untuk mencari teman yangcare dengan kita pun susah-susah gampang, entah karena sifatnya yang tidak kita sukai, atau ada hal lain yang membuat kita enggan untuk dekat dengannya. Kita boleh memilih-milih teman, dengan catatan orang tersebut dapat membawa kita dengan hal-hal yang baik, bukan malah menjerumuskan kita.

Begitu juga dengan sahabat, sahabat yang baik itu tidak akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif. Justru sebaliknya, sahabat yang baik akan menuntun kita pada kebenaran jika kita berada dalam kesalahan. Yang pasti, sahabat itu selalu ada disaat kita membutuhkannya. Bisa saling mengerti, dan bisa dibilang seperti keluarga ke dua. Ada yang nempel terus kaya perangko, sampai dibilang anak kembar. haha:D


Tapi, ada juga yang tidak rela kalau sahabatnya punya teman baru. Memang berlebihan, mungkin dia tidak mau kehilangan sahabatnya itu tapi sahabat sejati tidak akan pernah melupakan sahabatnya meski telah mempunyai teman baru. Berbagai macam cara untuk mempertahankan persahabatan, itu artinya sahabat memiliki arti yang lebih dibandingkan dengan teman bermain.